Atas dalih mobilitas, banyak orang yang terkena demam berbagai macam gadget terbaru. Terutama smartphone, tablet, dan laptop hybrid. Angan-angan awal sih ingin supaya peran laptop bisa tergantikan–mengingat unitnya cukup berat dan masih ditambah charger “khusus”.
Dari pengalaman saya, laptop tidak bisa sepenuhnya tergantikan. Di sini saya mencontohkan pemantik di kebutuhan ngetik saja–dan harusnya sudah cukup memberi gambaran buat keperluan lain.
Pertama smartphone. Smartphone android pertama saya adalah Huawei Boulder. Kalau kamu cari di internet, akan muncul hp bersistem operasi Froyo dengan dual input: touch and type. Setelah Boulder, hp saya selalu full touch screen.
Huawei Boulder adalah salah satu barang terbaik yang pernah saya beli. Dengan dual inputnya saya bisa dengan mudah mencatat dan melakukan pengetikan draf tulisan tahap pertama. Artinya kalau saya mau melakukan penyetingan tulisan lebih lanjut (layout, dkk) saya memilih untuk memindahkan file-nya ke laptop.
Kehebatan dari Boulder ini adalah: sampai sekarang masih saya pakai–hp ini selalu saya gunakan untuk mencatat verdict tiap saya nonton film, keypad-nya sangat membantu. Namun jangan tanya baterai, RAM plus memori internal, apalagi touch screen-nya. Dengan usia sudah lebih dari enam tahun, baterai sudah cukup drop dan touch screen-nya sudah lama mati–sudah tidak ada yang menjual spare part. Untung, saya lockscreen-nya menggunakan pin (bukan pattern) sehingga masih bisa unlock layar tanpa perlu menyentuh dan membuat pola.
Berkat OS Android-nya, saya kira Boulder dengan mudah melibas para Blackberry era itu yang juga memiliki keypad fisik. Keleluasaan install aplikasi Android pendukung membuatnya lebih ramah pengguna.
Dengan Boulder, saya bisa lebih fokus dan cepat dalam mengetik. Hal yang sangat jarang saya rasakan kesamaan sensasinya ketika berganti menggunakan smartphone full touch screen.
Bagian 2: segera.