Sampai hari ini, time planner terbaik tetaplah yang berwujud fisik. Bisa dicoret-coret, disentuh, dilihat langsung tanpa harus buka folder sana folder sini.
Saya dulunya rajin menggunakan Google Calendar. Pertama karena bisa dipakai di hampir semua devices–otomatis terhubung. Kedua karena tampilan alokasi waktunya jelas.
Namun, itu tidak berlangsung selamanya, ternyata mencatat plans di smartphone itu rawan. Yang paling rawan bukanlah rawan hilang, tapi rawan tertumpuk dengan aplikasi, notes, maupun notifikasi lain.
Dengan fitur smartphone yang “all in one” (semua aplikasi bisa masuk dan diakses semua di situ), ketika suatu pengingat tertumpuk, rasanya kita jadi tidak punya “paksaan” yang tegas. Akibatnya, saya pun seringkali mangkir dari jadwal yang sudah dibuat di awal, atau yang lebih toleran: seenaknya menggeser-geser jam. Poin terakhir itu sangat mengkhawatirkan, sebab ketika itu terjadi, otomatis jadwal lain ikut tergeser.
Jalan keluarnya ada beberapa cara:
1. Pakai notes kecil yang bisa dibawa ke mana-mana;
2. Pakai papan tulis (hitam atau putih) yang diletakkan di dekat tempat kerja dan mudah dilihat;
3. Cetak “kertas rencana” yang bisa diisi dan dilipat dengan mudah sehingga bisa diselipkan di saku maupun dompet.
Tiap orang memang punya caranya mengontrol jadwal masing-masing. Setidaknya, tiga cara di ataslah yang paling efektif saya terapkan.
Selamat menjadi lebih tertata.