Salah satu serial televisi yang tahun lalu saya anugerahi label 10/10 adalah American Crime Season 2.
Saya adalah A BIG FAN untuk musim keduanya–musim pertama biasa saja.
Dari situlah, maka saya mengira-ira apakah musim ketiga bakal bisa menyamai bahkan melampaui pencapaian sebelumnya?
Dengan dimulainya musim ketiga di Maret 2017 silam, dan setelah berjalan empat episode, saya akhirnya bisa membenarkan posisi duduk sambil menarik kesimpulan: this season is not as good as the predecessor.
Tidak sebaik bukan berarti tidak baik. Cuma, musim ini American Crime malah jadi terlalu ambisius. Ketika tahun lalu sajiannya tayang dengan pengisahan paralel yang “dekat” nan “ramah”, kali ini yang terjadi adalah sebaliknya.
Pengisahannya kali ini paralel yang terlalu “meluas” dan “tidak ramah”. Di awal saya sebenarnya cukup senang karena isunya sangat domestik (Amerika), tentang: imigran, buruh berupah murah, penjualan manusia, dan “kotor”-nya segala praktik usaha produksi-konsumsi-distribusi. Namun, seiring berjalannya episode, serial ini justru terus mengalir landai. Tidak tampil sesignifikan fokus premisnya.
Ketika sampai di episode empat akhirnya saya bisa merangkai verdict utama bahwa musim kali yang ditonjolkan adalah kontradiksi segala kemungkinan secara vulgar. Kontradiksi menjadi hal yang terus didorong supaya nampak jelas di permukaan. Di beberapa bagian, usaha ini justru menghilangkan simpati penonton. Saya sangat menyayangkannya.
Sebagai komparasi, pokoknya musim ketiga beda jauh secara kualitas pengisahan dibanding musim kedua. Musim kedua berjalan di mana bahkan penonton pun susah menentukan sikap: mana yang benar dan mana yang salah. Posisi abu-abu inilah yang membuat laju American Crime tahun lalu punya modal yang mumpuni–termasuk karena deretan cast yang memang cihuy.
Meski kecewa, saya tetap ingin menyelesaikan musim kali ini secara proper. Masih ada beberapa pekan ke depan untuk semakin meyakinkan penilaian akhirnya. Semoga dan semoga.