Drafting (day 53)

xxii

@31harimenulis

Membiasakan diri untuk mengerjakan hal baik itu bagus. Yang tidak bagus adalah mengerjakan hal baik baru setengah jalan, lalu hobi numpuk buat diselesaikan kapan-kapan.

Saya termasuk yang sering melakukan tindakan tidak terpuji itu. Terutama dalam hal menumpuk draft berbagai proyek. Terutama yang output-nya berupa tulisan.

Kebiasaan men-draft-kan banyak hal tersebut selayaknya patut dicontoh. Selain biar tidak lupa, drafting juga akan sangat membantu dalam hal penyusunan logika berpikir yang lebih kohesif. Logika ini tidak cuma bisa diaplikasikan ke hasil akhir tulisan, tetapi sifatnya universal (bisa juga buat audio/verbal, visual, gerakan, maupun gabungan).

Dari yang selama ini saya lakukan, kegiatan drafting umumnya terwujud dalam bentuk: poin-poin di notes hp, poin-poin di kertas, ataupun mind-mapping di kertas. Dan faktanya lagi, drafting itu sangat praktis dan tidak butuh usaha berlebih. Bahkan bisa kita lakukan sambil melakukan hal lain–multitasking. Yang paling sering saya lakukan adalah menonton film/series sambil menuliskan poin-poin yang nanti (rencananya) bakal saya tulis di review panjang.

Sayangnya, kondisi lapangan sering berkata lain. Ketika rancangan sudah ada, mendadak rasanya tubuh berkonspirasi untuk buru-buru merasa “sudah menyelesaikan tugas”–padahal kenyataannya baru separo jalan. Di kondisi ini, saya pun bisa menjamin bahwa jumlah review “jadi” berbanding terbalik dengan tumpukan draft yang ada di repositori saya. Perbandingannya bisa sampai menyenggol 1:10–untuk setiap review yang telah saya unggah, masih ada +-10 draft yang antri.

Implikasi kebiasaan buruk–menumpuk sesuatu–ini cukup bikin senewen. Rasanya di atas kepala saya seolah selalu ada beban tak kasat mata yang membayang-bayangi. Kadang pula saya merasa kehilangan momentum; sebab, misalnya, film sudah turun layar tetapi saya belum menuntaskan review-nya. Entah kapan siklus mengesalkan ini bakal terputus mata rantainya.

Saya cuma bisa berkata: semoga.