Berhenti | Jumat Retrospeksi

limabelas

@31harimenulis

Saya sempat mengira bahwa 2019 akan jadi lebih baik dari 2018. Setidaknya “mungkin” akan jadi lebih produktif dan “sehat”.

Nyatanya tidak semulus itu. Meski ada beberapa momen produktif yang bikin saya senang, tapi di tahun yang sama juga ada salah satu batu sandungan terbesar yang pernah saya hadapi.

Awal tahun berjalan normal. Saya masih menulis konten bertopik teknologi–karena memang kontrak dengan Gamatechno masih jalan. Dan saya senang menulis untuk mereka, sudah lebih dari tiga tahun pula.

Di waktu bersamaan, itu sudah masuk semester terakhir saya di EEC (yang berdurasi dua tahun). Dengan mata kuliah yang tidak sebanyak tahun pertama, saya pikir harusnya tidak akan ada banyak kesulitan.

Lalu hadirlah bulan ketiga. Saya menerima tawaran baru untuk menulis tulisan khusus dengan kontrak tiga bulan. Tiga bulan berjalan, saya menyelesaikan draft-nya sesuai kesepakatan. Sayangnya apa yang terjadi tidak semulus perjanjian awal.

Saya diminta revisi lagi dan lagi bahkan untuk bagian yang sebelum-sebelumnya sudah di-acc. Komunikasi tidak berjalan sebagaimana saya harapkan karena selalu ada delay–karena pihak seberang juga punya kesibukan lain.

Di titik itu, saya masih sangat yakin bahwa seharusnya porsi saya sudah selesai. Harusnya itu sudah jadi ranah editor (yang benar-benar editor, bukan staf suruhan yang mendadak jadi editor yang cuma bisa ngecek typos). Dari yang awalnya tiga bulan, akhirnya molor sampai dua kali lipat dan saya masih belum menerima bayaran.

Bisa bayangkan frustasi saya? Udah kayak melakukan proyek amal.

Rasa tertekan pada proyek ini bikin hidup saya di kuartal kedua dan ketiga 2019 agak mosak-masik. Tidak ada kejelasan meskipun permintaan saya sudah jelas. Selalu diputar-putar dan diulur-ulur. Semester terakhir saya di EEC kena imbas, ada mata kuliah yang di mata saya jadi sangat hancur.

Di periode itu saya benar-benar capek. Akhirnya saya memutuskan untuk merelakannya saja meskipun baru dibayar kurang dari 20% nilai riilnya.

Saya benar-benar berhenti ngapa-ngapain sampai Oktober. Coba menghilangkan rasa capek yang sangat tidak beres itu.

Untunglah di November saya dikontak teman baik saya dan ditawari proyek baru penulisan buku. Saya anggap itu sebagai titik restart. Meskipun ada tekanan juga di prosesnya, tetapi tekanan kali ini terasa berbeda. Lebih fair.