sepuluh
@31harimenulis
Kalau diingat-ingat, akhir tahun lalu adalah periode di mana saya memaksa diri ini untuk kembali melakukan banyak hal “baru” secara konsisten. Kurang lebih berselang hampir setengah tahun semenjak puncak burn out menghantam.
Usaha “comeback” itu termasuk memulai ulang kegiatan belajar bahasa baru lewat Duolingo. Menurut mesin hitung hariannya, malam ini bakal genap 208 hari saya menjalaninya tanpa bolong. Bangga jelas iya, tapi bukan yang bangga-bangga amat. Kenapa?
Semuanya berpusar pada sistem liga di dalamnya.
Tiga bulan pertama jadi yang terefektif. Saya harus naik level liga yang dinamai dengan nama-nama batu mulia. Puncaknya adalah ketika saya akhirnya sampai di klasemen kulminasi: berlian/diamond.
Lalu apa?
Semangat untuk mengeksplor kosa kata lebih banyak jadi agak mandeg karena sekarang tujuannya bukan lagi untuk naik liga, melainkan mempertahankan posisi.
Syarat naik liga adalah saya mesti masuk sepuluh besar untuk memperoleh promosi di tiap pekannya. Bandingkan dengan syarat di mana pengguna harus mampu berada di 45 besar kalau mau tetap bertahan. Lebih longgar bukan?
Otomatis, hal itulah yang juga saya prioritaskan. Bukan lagi tentang belajar hal baru, tapi jadi kebiasaan sekadar mengulang-ulang materi lama supaya lebih cepat dapat poin.
Dan kebetulan, seluruh proses itu akan di-reset tiap Senin pagi. Artinya (malam ini) saya harus memastikan kecukupan poin untuk esok pagi.
Lepas dari itu, konsistensi selama lebih dari dua ratus hari ini tetap bikin saya terharu. Ternyata saya masih bisa melakukannya.