“Tea” | Senin Figur

sebelas

@31harimenulis

Main hakim sendiri nyatanya tidak terkungkung di dunia nyata saja. Bahkan ketika pembicaraannya terjadi di jagat maya, bulan-bulanannya jauh lebih parah. Alih-alih berkonotasi negatif (layaknya keroyokan pada umumnya), gerakan digital ini justru selalu dinantikan banyak orang bahkan dirayakan.

Branding namanya pun terdengar elite: spill the tea. Menggelitik, kan?

Sayangnya, kalau mau jujur, metodenya tidak bisa disebut akurat. Rawan manipulasi, motif clout diri, dan kecampur emosi pribadi.

Lebih anehnya lagi, orang-orang pun sering mencak-mencak pada spill yang sebetulnya remeh temeh dan bukan urusan mereka. Karena saya rutin nonton TikTok, mari kembali pakai contoh di situ.

Baiklah, yang masih anget, tentang TikTokRoom, Griffin, dan Kio. Bahasa gampangnya, TikTokRoom itu akun ghibah nggak penting. Pokoknya tiap ada hal yang bisa dipelintir, mereka jadi yang terdepan posting. Sudah ada sangat banyak kasus di mana kreator TikTok merasa dirugikan oleh operasional mereka.

Lalu Griffin pun coba bikin skenario perselisihan dengan temannya: Kio. Tujuannya agar TikTokRoom melirik, padahal itu setingan. Apa yang mereka lakukan? Griffin unfollow Instagram Kio. Seremeh itu!

Umpan pun kena, akun gosip itu mulai menularkan bisanya. Bisa ditebak, banyak yang triggered. Terbentuklah pasukan “SJW” kualitas curah yang lalu menyerang kolom komentar milik Griffin dengan berbekal spill-an kosong itu. Jokes on them, the next day Griffin revealed the real scenario!

Dari satu contoh itu saja bisa dibanyangkan serendah apa kualitas spill the tea ini?

Mungkin ada yang kredibel, tapi saya yakin jumlahnya ga banyak. Wishlist saya pun tambah: semoga fenomena spill ini segera berakhir. Bukan saja susah dipertanggungjawabkan, tapi seringnya hal ini berujung pada tindakan bully, doxxing, hingga ancaman yang kelewatan–seberat maupun seringan apa pun sumber materi spill-nya.