Tak Apa Tidak Mau Tahu | Selasa Refleksi

duapuluhenam

@31harimenulis

Semakin ke sini saya semakin tidak berminat pada hal-hal yang kurang familier dan tidak masuk skala “penting” bagi saya. Dulu saya masih penasaran untuk mengeklik (misalnya) utas twitter random yang kebetulan lewat di linimasa, kemudian coba browsing lebih jauh kalau ada hal yang masih mengganjal, hingga meluangkan waktu untuk bikin respons. Sekarang?

Berkurang drastis.

Belakangan ini saya cukup banyak menggunakan fitur mute yang tersedia di masing-masing medsos. Mulai dari (misalnya twitter lagi) membisukan kata kunci tertentu hingga akun tertentu yang kebetulan saya anggap hanya “mengotori” beranda. Kicauannya tidak salah, cuma saya tidak punya minat saja.

Awalnya saya bingung dengan perubahan respons ini. Apakah saya jadi tidak mau tahu hal “baru”? Saya masih punya sisi penasaran. Hanya saja impuls saya meyakinkan bahwa tidak ada gunanya juga kepo tentang hal-hal tertentu karena tidak akan memberikan manfaat bagi saya ke depannya.

Hal ini didasari pada fakta bahwa apa yang saya serap hari ini tidak akan sepenuhnya “otomatis” ingat di hari berikutnya kecuali dipancing. Jadi ya hidup tanpa tahu hal tertentu tidaklah berdosa, tidak salah, tidak apa-apa.