duapuluhdua
@31harimenulis
Meskipun penurunan produktivitas dan kondisi mental terus diuji, bukan berarti semuanya jadi sama-sama masuk kubangan becek. Tetap ada sekian hal yang misal dipikir di masa-masa pengambilan keputusan waktu itu terkesan putus asa dan tidak masuk akal, ternyata di kemudian hari merupakan tindakan ideal.
Salah satunya adalah keputusan untuk tidak langsung tes IELTS dan cari S2 di tahun lalu.
Kalau mengikuti rencana awal, mestinya setelah EEC saya akan langsung jadi pemburu beasiswa. Sayangnya, burnout berada di titik terkacaunya. Saya tidak selera melangkah kembali ke bidang akademik untuk sementara waktu. Sehingga saya pun memilih untuk rehat sejenak.
Keputusan itu kalau ikut mindset tahun lalu sungguh di luar perhitungan. Padahal uang tes IELTS pun sudah siap di depan mata dan persiapannya sudah termasuk berada di tahap final.
Bagaimana pun, saya menganggap kesehatan pikiran saya jauh lebih penting dan sekali lagi saya harus mengikuti feeling dibandingkan mengikuti ego sementara ini. Saya pun berani bilang “sedang capek, butuh rehat” ke orangtua–dan mereka suportif. Jadilah saya masuk ke hari-hari terbebas dari pikiran apa pun, detoks burnout dimulai tanpa tahu akan berjalan berapa lama.
Masuk 2020 semua pilihan “tak masuk akal” itu jadi “masuk akal”. Pandemi global menutup hampir seluruh kran-kran mobilitas lintas negara termasuk bidang pendidikan. Sekolah diliburkan, para siswa diminta kembali ke rumah/asal, seleksi beasiswa dihentikan sementara waktu, bahkan aktivitas yang bersifat turun temurun pun sampai harus ikut dihentikan.
Sukar rasanya untuk menampik bahwa ini bukan kemujuran dan kebetulan. Tidak pernah terbersit di benak saya tentang skenario liar ini. Tapi nyatanya inilah yang terjadi sekarang. Saya semacam menyelamatkan diri dari potensi menghambur-hamburkan sesuatu terlalu dini.