sembilanbelas
@31harimenulis
Awal dekade lalu, saya sedang giat-giatnya memupuk banyak dedikasi ke banyak fandom. Dengan kata lain saya tergolong protektif dalam menjaga dan membela nama baik sekian idola. Tidak gentar jadi prajurit keyboard.
Rasa-rasanya tiap kali saya ingat momen itu, diri ini kembali memanggil kedongkolan yang pernah ada. Mudah sekali tersulut dan bawaannya ingin terus berlaku defensif. Meski saya cukup yakin bahwa klaim saya selalu beralasan, tapi tetap saja tindakan-tindakan ini berakhir melelahkan. Menguras tenaga sekaligus batin saya.
Menyadari hal itu, akhirnya intensitas konfrontasi itu saya kurangi tidak lama kemudian. Tidak perlulah ikut nyemplung ke dalam kubangan. Jaga radius aman lebih asyik karena jadi bisa memantau anehnya perkelahian orang-orang.
Meski begitu, kadang saya masih kecolongan juga. Terutama ketika serangan musuh begitu tidak masuk akal. Apalagi di era cancel culture seperti sekarang.
Bayangkan, dalam dua bulan belakangan saja saya sampai refleks angkat senjata ketik lagi karena melihat beoan kosong para SJW yang dialamatkan kepada Max Dressler dan Sam Andrews. Jujur, energi saya entah kenapa ikut begitu tertekan gara-gara ini–saya padahal sudah berusaha tidak terpapar energi negatif dari para SJW yang hobi merusak kolom komentar ini terlalu banyak.
Saya jadi agak-agak takut tiap kali mencoba mengecek konten baru mereka. Takut refleks mencet tombol untuk tampilkan komentar-komentar dan akhirnya kembali tersulut sama omongan para SJW bebal itu.
Jadinya, kini saya berusaha sebisa mungkin hanya datang dan menonton lalu pulang. Tak perlu melihat tingkah polah njelei orang-orang itu di bagian komentar. Semoga bisa istikomah.