Jangan Mau Disetir | Senin Figur

delapanbelas

@31harimenulis

Salah satu kreator yang terhitung “baru” masuk ke dalam daftar favorit saya adalah Sam Andrews. Secara tidak sengaja saya menemukan kontennya di laman muka TikTok, dan ternyata muatannya cocok sama selera. Sejak itulah saya rutin mengecek akunnya, plus kanal YouTube yang dipunya karena kuartal pertama 2019 ini dia juga mulai aktif di sana.

Sayang sekali, pekan kemarin dia kena musibah: diserang SJW yang punya faham “maha benar” melalui senjata andalan “cancel culture”.

Pikiran saya sampai hari ini masih memproses: kenapa mereka ngotot sekali?

Jadi singkatnya, Sam kembali mengunggah seri obrolan lewat tengah malam. Dengan kondisi jam larut yang biasanya memang dipenuhi oleh banyak hal yang melintas di pikiran, dia berbicara tentang angka harapan hidup pria dan wanita serta alasan yang melatarbelakanginya.

Alasan-alasan yang dia sebut memang tidak lengkap (baru dari satu sisi, yaitu perbedaan jenis pekerjaan). Tapi kalau dipikir-pikir, di jam-jam segitu, apalagi dia tidak sedang bikin paper atau debat publik, tidak ada yang salah dengan apa yang dilontarkan. Pun dia tidak menutup kolom komentar serta duet di tiap videonya.

Naasnya, para SJW itu langsung membombardirnya dengan sebutan misoginis dan berlomba-lomba menyebarkan gerakan cancel Sam. Bagi saya pribadi, ini jelas tidak masuk akal. Kenapa?

Dari banyak orang yang harusnya lebih pantas digelari misoginis, loh kok malah Sam yang disasar? Padahal kalau mau cari sekutu gerakan feminis yang progresif, dia adalah salah satu kandidat yang mumpuni. Dia tidak menutup diri dan mau belajar lebih jauh lagi tentang isu yang membuatnya diserang (dan dia rilis video lanjutan itu di akun utamanya yang punya jutaan pengikut).

Namun, ya tahu sendiri tabiat para SJW itu. Mereka selalu pasang kacamata kuda dan terus membeo slogan seragam tanpa mau belajar. Tidakkah itu jadi bikin banyak orang engap sama gerakan yang mereka perjuangkan?

Mungkin mereka lupa sama sejarah juga. Mungkin serial baru “Mrs. America” lupa mereka tonton karena terlalu sibuk ngotot nge-cancel orang di medsos dan lupa meng-upgrade kualitas inteleknya.

Mereka hobi cari musuh tapi malah jadi bumerang sendiri karena targetnya salah. Harusnya mereka bisa nyerang kelompok lain yang sudah jelas-jelas berusaha melibas nilai yang mereka anut.

Sekali lagi terbukti bahwa TikTok bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan open conversation, terutama yang nyerempet isu sosial dan politik. Malah bisa jadi ladang backlash. Udah paling bener posting hiburan sahaja. Entahlah. Stay strong, Sam!