Jangan Scrolling Down | Minggu Kebiasaan

tiga

@31harimenulis

Saking lamanya vakum dari dunia blogging, saya sampai belum sempat menumpahkan cerita tentang adiksi (yang masih tergolong) baru: TikTok. Bukan sebagai kreator, cuma sebagai penonton.

Hal ini tidak lepas dari peran para YouTuber favorit saya (terutama David Dobrik) yang gencar nyebut kalau mereka habis unggah video baru di TikTok. Mau tidak mau, sebagai seorang penggemar yang taat, saya mesti menontonnya, turut meninggalkan like; bahkan kalau lagi pengin ya ikutan komentar.

Dari yang awalnya cuma nonton dari akun-akun terbatas dengan For You Page yang itu-itu saja selama setahunan, akhirnya pada November tahun lalu saya berubah haluan: eksplor sebanyak-banyaknya. Hasilnya?

Per hari ini saya telah mengikuti 3207 akun. Dalam sehari seenggaknya akan ada 20 akun baru yang masuk ke daftar itu karena muncul di halaman rekomendasi. Penyebabnya?

Gestur scrolling down yang jadi andalan TikTok.

Tidak akan saya pungkiri, aplikasi ini paham betul gimana cara bikin penggunanya betah, kayak dirantai (tapi rela), dan tahu-tahu sudah dua jam lebih nontonin ratusan konten yang disodorkan. Sekali buka aplikasi, tinggal geser atas-bawah sambil sesekali ngeklik link.

Repotnya adalah misal di awal saya sudah niat mau nonton konten dari kreator tertentu, semua itu bakal buyar seketika halaman FYP terbuka. Bukannya langsung menuju ke tab pencarian, saya justru asyik scrolling down For You Page hingga otomatis amnesia pada tujuan awal. Sesering apa terjadi?

Satu kali? Dua kali? Tiga kali? Lebih…

Sudah ratusan, atau mungkin ribuan kali dalam setengah tahun ini saja. Terutama mengingat TikTok sudah resmi menggeser posisi Twitter sebagai aplikasi paling banyak saya akses–tambah parah di tengah masa pandemi seperti sekarang.

Jadi, ya, saya berpesan pada diri sendiri: jangan gampang terdistraksi halaman rekomendasi.