Kalau diingat, saya berada di posisi paling berani sepanjang hidup bukan pada lima tahun belakangan. Justru sewaktu saya masih SMA.
Waktu itu saya merasakan keleluasaan dan keberanian berekspresi yang entah munculnya dari mana.
Bukan berarti saat ini saya tidak berani, tapi memang alokasinya berada di bagian lain. Kalau saya dulu “berani” di bagian membuka diri lebar-lebar (meski tetap ada yang sengaja saya tidak umbar), belakangan “berani” saya lebih ke tataran intelektual–saya merasa punya kapasitas untuk mengutarakan atau sumbang gagasan pada bidang tertentu. Jika kamu di posisi saya, kegelisahan atas pergeseran level “berani” ini pasti akan ikut membuatmu kebingungan. Lain waktu saya akan coba cari cara cerita tentang hal ini dengan lebih gamblang.
Nyatanya, kemarin saya menonton Booksmart. Sebuah sajian baru Anapurna dan Netflix yang menyoroti dua remaja SMA yang sangat cerdas secara tekstual. Sejak mula mereka berjanji untuk benar-benar fokus pada tuntutan akademis sampai-sampai lupa untuk bergaul secara wajar dengan teman sebayanya. Kondisi terbalik ketika Molly mendapati percakapan di toilet sekolah yang menunjukkan bahwa ada banyak anak yang suka huru-hara tapi tetap mampu meraih spot terbaik. Menyadari paginya adalah hari kelulusan, ia langsung jempalitan dan menyeret Amy untuk menebus “dosa” pribadi semasa SMA.
Agaknya semesta sedang memberikan pertanda pada saya. Sebab pasca menontonnya, saya langsung punya nyali lagi untuk mulai menulis personal. Memang butuh waktu, tapi yang ini saya tidak menundanya cukup lama. Kalau dihitung-hitung, saya kagok menulis sejak 2016, itu dua setengah tahun yang lalu. Di antaranya memang saya tetap menulis, tapi kalau dipadatkan mungkin hanya tembus setengah tahun periode produktif.
Dua tahun saya penuh kegamangan yang akhirnya membuat aktivitas ini berhenti. Aktivitas yang padahal selalu saya katakan: tidak pernah bikin saya kecewa.
Bisa kamu bayangkan seberapa “kecewa”-nya saya sampai-sampai nekat memutus kegiatan yang punya titel semacam itu?
Saya berada di posisinya Molly sekarang, dengan kesibukan lain tapi konteks emosionalnya sama. Saya tidak akan menyangkal bahwa “Mula (lagi)” ini penuh dengan kekacauan–bayangkan, saya dua tahun memutuskan untuk tidak menulis blog.
Namun, sudah semestinya pula saya harus kembali “berani” memulai supaya apa yang saya mungkin sesali sekarang di tulisan ini, bisa ikut berbenah di hari-hari selanjutnya saya kembali menulis. Dengan posting-an ini sebagai penanda satu.
Terima kasih semesta.