Flashback review. Little men (day 50)

xix

@31harimenulis

Menyaksikan Little Men membuat kita bisa dengan mudah melemparkan ingatan ke masa lalu. Paling tidak bagi saya pribadi, ada beberapa momen yang sangat relevan dengan masa kecil.

Misalnya tentang aksi diam yang dilakukan oleh si dua karakter bocah protagonis. Tidak ada intensi berlebihan di situ, mereka hanya mengira bahwa mereka mesti melakukannya. Dan ketika tahu bahwa di satu titik tindakan mereka tidak sepenuhnya berujung impas, mereka menunjukkan penyesalan yang tidak meledak-ledak. Jake (salah satu anak) justru berujar dengan emosi lembut, tidak ingin membuat orang lain merasa bersalah, dan inilah yang justru menciptakan keharuan telak.

Pada dasarnya Little Men menampilkan kesederhanaan yang sewaktu-waktu bisa menjurus ke satire–dan kadang menimbulkan ketidaktuntasan cerita di beberapa bagian.

Namun dari relasi yang terbangun, kita dibuat sadar bahwa yang membuat New York menarik bukanlah gedung-gedung pencakar langit maupun gemerlap artifisial. Alih-alih hubungan tiap entitaslah yang memegang nilai kunci.

Mulai dari komunitas besar hingga di kehidupan tetangga dan rumah tangga kecil. Mengamati berbagai usaha yang diupayakan tiap orang sesuai kapasitasnya supaya bisa dihargai oleh orang lain tanpa harus merisaukan urusan batasan-batasan seperti ras, finansial, status, dan semacamnya.

Kata film ini, kegagalan dialami orang karena menuntut diri sendiri terlampau keras.