xvii
@31harimenulis
Di seri ketiga saya teringat dengan kebiasaan saya lainnya di masa lalu yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam, bercocok tanam.
Sewaktu kecil (SD) saya selalu punya ketertarikan dan rasa penasaran khusus pada hal, “Bagaimana tanaman bisa tumbuh?” Dan karena pertanyaan ini berhubungan dengan “bisa tumbuh”, saya tidak begitu saja puas mengamati pohon yang sudah berukuran sedang atau besar tapi masih bisa berkembang. Dalam benak, saya berkeyakinan teguh bahwa pengamatan harus dilakukan teruntuk tanaman sedini mungkin.
Bahasa lebih sederhananya: kalau tumbuh dari biji, saya harus menanamnya dari bijinya langsung; kalau berkembang biak dari daun, saya harus menyemainya dari daun juga; kalau lewat batang pun saya berusaha menumbuhkannya; dan semacamnya.
Karena memang rasa penasaran kala itu cukup besar, saya tidak pernah puas kalau tumbuhan yang ditanam cuma yang mudah ditemui di sekitar. Kadang, kalau sedang liburan dan semacamnya, saya selalu menyempatkan untuk mencari benih tanaman yang belum ada di rumah. Tidak heran kalau kemudian (dulu) ada sepetak tanah sempit di halaman rumah (yang saya akuisisi, paling ukuran 1.5×1.5 meter) yang di situ tumbuh berbagai jenis tanaman hasil kerja keras saya–dari cabai, bayam, bunga-bungaan, kurma, sakura, alpukat, mangga, rambutan, duku, kelengkeng, kelapa, pare, matoa, dan masih banyak lagi.
Penanamannya pun tidak sporadis. Saya atur sedemikian rupa berdasarkan jenisnya. Yang masih kecil/belum tunas saya tumbuhkan di gelas plastik berisi campuran tanah dan pupuk sebelum nantinya benar-benar dipindahkan ke tanah. Petak tanah saya kavling-kavling dan diberi label nama tanamannya masing-masing–bahkan saya lengkapi dengan nama latinnya.
Salah satu capaian tertinggi adalah ketika saya bisa menumbuhkan pohon kurma langsung dari biji buah kurma sisa buka puasa (soalnya treatment-nya benar-benar susah), meski tidak berumur panjang.
Kegiatan ini saya geluti cukup lama, tapi saya lupa kapan persisnya mulai saya tinggalkan. Yang saya ingat, menjelang titik puncak kebosanan, beberapa tanaman ada yang dipindahkan ke rumah simbah saya di Gunungkidul. Salah satu yang dipindahkan adalah pohon alpukat. Pertama kali dipindahkan waktu saya hampir lulus SD, dan tahun lalu (2016) pohon itu berbuah untuk pertama kalinya. Yang bikin saya senang adalah berbuahnya lumayan lebat.
Ketika pertama kali berbuah itu bahkan saya membanggakan ke keluarga besar bahwa itu dulu yang menanam adalah saya. Kebanggaan yang nampak remeh tapi sangat memuaskan.