v
@31harimenulis
Saroo kecil menjadi contoh bahwa insting bertahan hidup seorang manusia memang ajaib. Dia berasal dari daerah terpencil yang bahkan bahasa lisannya berbeda dengan kota tempatnya terdampar terlunta-lunta. Di situ dia mencoba beradaptasi dengan kondisi seadanya. Minim bekal informasi–yang bahkan dia sendiri tidak tahu cara mengeja namanya secara benar, tidak tahu nama asli ibunya karena umum memanggil dengan sebutan “ibu”, dan tidak mengerti letak tempat tinggal asalnya di peta.
Kita dihadapkan pada realita betapa kerasnya kehidupan seseorang yang tidak tahu apa-apa. Tengok bagaimana dia harus terus dikejar-kejar oleh aparat penertiban, nyaris diperdagangkan, hingga mesti menerima kehidupan di penampungan anak yang kondisinya sanggup membuat hati saya mencelos. Rasa iba itu muncul bukan semata-mata karena tampilan fisik lingkungannya, tetapi lebih kepada melihat banyaknya anak-anak yang tidak sekuat Saroo dalam bertahan hidup dan akhirnya mesti mengidap beragam trauma mental.
Melihat keteguhan dan kesederhanaan pikir yang Saroo tunjukkan, simpati pun bukanlah hal sulit untuk ikut bertalian. Garth Davis sebagai sutradara mampu menghubungkan kotak-kotak periode yang ada menjadi sebuah bangunan yang utuh. Bangunan yang tidak serta-merta sempurna, tapi paling tidak layak untuk disebut sebagai rumah.