Macam-macam pencahayaan tidak cuma jadi urusan dapur studio atau pembuat film. Di banyak hal, pencahayaan memegang peranan vital dalam hal membentuk mood. Salah pengaplikasian, habis sudah rencana awal. Saya coba contohkan beberapa model penerapannya.
Kalau mau belajar, gunakan penerangan sekuat mungkin, tapi jangan terlalu gedhe watt-nya, nanti kepanasan. Jangan gunakan lampu yang redup (paling tidak lebih tinggi dari 10 watt LED/setara), karena kalau kurang kuat, nanti bawaanya pengin tidur terus.
Kalau mau tidur, gunakan lampu redup. Ini karena saya terbiasa tidur dengan lampu menyala. Menggunakan lampu LED 3.5 watt untuk ukuran kamar saja saya sudah berasa remang-remang–walaupun masih jauh lebih terang dibanding yang belum LED. Yakin, kalau yang nyala cuma lampu ini, bawaanya pengin rebahan terus.
Kalau mau bikin sesak napas, matikan semua sumber pencahayaannya. Mungkin ini cuma berlaku bagi saya. Namun, sungguh terjadi. Saya semacam punya kelainan sistem tubuh yaitu serasa tidak bisa napas tiap berada di tempat yang gelap total.
Putih atau kuning? Ini selera sebenarnya. Sekiranya, warna kuning bikin lebih rileks. Pun lebih efektif buat kegiatan seperti membaca. Namun, kalau yang dilakukan adalah menulis atau pun menggambar maupun mengetik (yang perlu syaraf motorik lebih banyak), pilih pencahayaan putih.
Saran terakhir: coba saja eksperimen dengan menggabungkan/gonta-ganti lampu buat membuktikan mana yang paling optimal untuk hal tertentu. Saya juga begini, kok, hobi beli lampu… *miris*