Boleh saja masyarakat sekitar memiliki pelabelan khusus pada sosok-sosok generasi saat ini. Ada yang bersikap defense dengan palabelan itu, ada yang apa-apa dilihat dengan sudut mata sinis, ada yang memilih untuk situasional. Saya tidak akan berdalih bahwa saya berada di opsi ke tiga.
Artinya, saya ikut menertawai, membela, berkomentar, namun juga mengakui dengan pelabelan itu. Di banyak hal lain, saya memang sering berada di posisi antara. Tetapi, sebenarnya kecondongannya ke arah membela. Jati diri people nowadays kok rasanya cukup familiar bagi saya. Apalagi setelah selama sekian pekan saya berada di situasi yang menuntut untuk menjadi cukup berjarak dengan berbagai macam akses.
People nowadays diasosiasikan dengan katalisator: teknologi. Menurut saya itu integral. Setelah kurang lebih separo jalan durasi KKN di sebuah desa yang berlokasi di puncak bukit kapur di Tuban dan dikelilingi oleh hutan jati pun minim signal seluler, saya kangen banget pada hiruk pikuk Jogja. Jangan salah, saya bahagia dengan keramahan warga di sini–melebihi ekspektasi saya.
TetapI, tetap saja saya kengen wifi yang bisa langsung konek tanpa harus mencari-cari sudut yang tepat buat peletakannya. Saya kangen akses jalan yang cepat ketika ingin ke mana-mana, mencari berbagai keperluan, pelarian, dan hiburan, bahkan menikmati macet dengan dibumbui makian dalam hati. Saya kangen nonton ke bioskop, antri tiket, terencana maupun impromptu. Saya kangen interaksi yang bertebaran, yang semua buah pikir menguar bersama-sama ke udara–meski tidak selalu positif. Bahkan saya kangen karaokean, baik di bilik-bilik bising yang mahal itu, tidak modal dengan proyektor dan akses YouTube di kelas, hingga yang sangat personal pakai minilyric.
Tetapi, yang paling ngangenin adalah: kamar saya. Saya kangen produktif di situ. Saya kangen dengan tempat tidur yang ada di bawah meja. Saya kangen nonton film di layar lebar kustom dengan situasi gelap total. Bahkan saya kangen buat sekedar bersih-bersih atau melakukan modifikasi rupa ruangan.
Sebagai bagian dari entitas people nowadays, agaknya saya homesick. Kangen dengan atmosfer khasnya. Pengin segera menghirupnya kembali.