14
@31harimenulis
Banyak orang yang hari ini berduyun-duyun mengarah ke Magelang. Ke Borobudur lebih tepatnya. Katanya ingin merasakan sensasi Waisak. Entah mengapa, namun saya selama beberapa tahun terakhir selalu beranggapan bahwa Waisak adalah hari raya keagamaan yang paling dieksploitasi. Ada penjelasannya.
Kesan pertama atau kesan khusus adalah yang paling berbahaya. Jika di saat itu masing-masing pandangan mendapatkan penilaian masing-masing, baik ataupun buruk, maka jelas akan terpatri selama-lamanya. Waisak di mata saya begitu. Sebelumnya saya tidak pernah menaruh rasa penasaran pada perayaan ini. Namun ketika tradisi banyak lampion yang dinaikkan ke angkasa seolah-olah mulai menjadi komoditas baru, mainstream, di situ lah saya mulai sedikit tahu alurnya—meski tidak secara langsung. Puncaknya adalah dua tahun lalu.
Kala itu, saking banyaknya orang yang ingin mengabadikan momen pelepasan lampion, pengunjung membludak. Bahkan lebih banyak dibanding mereka yang akan melakukan ibadah. Sayangnya, sebagian melakukan tindakan yang tidak bisa dibenarkan dari sisi manapun: mengganggu bahkan merusak prosesi ibadah. Ada yang naik ke altar, melakukan request pada orang yang sedang beribadah, pun menginjak kaki para peserta ibadah.
Sampai sekarang, itu lah yang menjadi kesan khusus saya. Sampai sekarang, ketika mendengar kata Waisak, yang langsung teringat adalah tragedi dua tahun lalu.
Semoga saya salah, dalam artian kejadian memalukan seperti itu tidak akan terulang kembali, tahun ini maupun tahun-tahun setelahnya (tahun lalu saya rasa sudah lebih tertib). Semoga setelah malam ini tidak akan muncul petisi menolak eksploitasi prosesi keagamaan karena ulah sebagian pengunjung yang tidak paham makna kesakralan. Semoga setelah malam ini, tidak bermunculan banyak orang yang bermental tuman. Semoga… dan semoga.