Selamat malam, #Beat2015 12/365
Saya berduka. Salah satu visualisasi karakter yang tumbuh bersama saya di masa kecil, dilansir meninggal hari ini. Saya jelas terpukul mengetahui kabar tidak adanya Verrys. Saya belum pernah bertemu secara langsung, namun dalam pribadi sendiri, saya berani menjamin bahwa nostalgia yang ada sudah terlalu kuat.
Saya tidak bisa memungkiri, Laskar Pelangi adalah salah satu film paling banyak saya tonton di urutan kedua (untuk semua film koleksi saya). Film ini setidaknya sepuluh (10) kali saya tonton ulang. Dan salah satu karakter yang paling mencuri perhatian adalah Mahar–Verrys. Saya mengenal karakternya jauh sebelum filmnya ada. Pun ketika filmnya mewujud, karakternya lah yang juga menjadi salah satu favorit saya.
Bagaimana tidak terpukul? Saya bahkan sampai hafal dialog yang dilafalkan oleh karakter Mahar di film. Dialog sekaligus intonasinya. Bahkan kedua, saya dikenalkan dan sampai hafal lagu Bunga Seroja. Saya diajak bersama untuk pelan-pelan menghargai banyak sekat perbedaan melalui lantunan dan perbuatan seni.
Hal lain yang membuat saya sangat sedih, mengapa tanda-tanda sebelum dia meninggal hampir mirip dengan Gayatri beberapa waktu silam? Mengapa dua individu yang punya potensi besar dan menginspirasi di generasi saya harus lebih dulu berpulang?
Saya tidak ingin menghambat keikhlasan, selamat jalan pemeran karakter Mahar! Verrys Yamarno. Terima kasih atas kenangan masa kecil yang susah terlupakan. Satu hal lagi, Laskar Pelangi adalah film pertama yang saya tonton di bioskop. Sebesar itu lah pengaruhmu dan anggota Laskar Pelangi lainnya.
Klik di sini untuk berita pertama yang saya baca tentang kabar ini.
—
Postingan kali ini berubah halauan. Pada awalnya, saya berencana membahas salah satu kicauan Caspar Lee (seorang vlogger) pagi tadi (waktu Indonesia).
Knock Knock.
Who’s there?
Opportunity.
Don’t be silly – opportunity doesn’t knock twice!
— Caspar Lee (@Caspar_Lee)