Nyaris tengah malam, #Beat2015 3/365
Life Itself membuat pandangan saya terhadap kritik film semakin jelas. Ini adalah seni yang lain yang juga melibatkan orang-orang kreatif di dalamnya. Ini adalah moda alternatif ketika sebuah tindakan mengkritik lewat tulisan ternyata tidak bisa dianggap sebelah mata, alih-alih diperhatikan oleh industri film yang sudah mapan.
Roger Ebert telah melakukannya selama puluhan tahun. Mendedikasikan hidupnya dalam haribaan film yang dibilang memiliki jiwa yang kuat pun dinamis. Dalam film dokumenter ini, saya dibuat sangat terharu bahkan ketika prolognya baru berjalan sangat sebentar,
And for me, the movies are like a machine that generates empathy. It lets you understand a little bit more about different hopes, aspirations, dreams and fears. It helps us to identify with the people who are sharing this journey with us.
Apa yang bisa saya ungkapkan lagi? Saya seperti bercermin. Bahkan Roger adalah sosok yang sulit untuk dicari lagi tandingannya setelah dia meninggal dunia. Flashback dan tuturan yang ada di Life Itself sangat jujur dan menampar saya kembali. Mengingatkan bahwa masih ada banyak hal yang perlu dibenahi untuk literasi film di Indonesia bertahun-tahun ke depan, tentang posisi kritikus film di sini.
Jelas saya masih berproses, saya menikmati itu. Saya menikmati setiap detik durasi dari film ini, menikmati intisari bahwa beruntunglah orang yang tetap bisa menulis dalam setiap waktu. Tidak masalah ketika memang tidak bisa lagi melakukan banyak hal, tulisan lebih bisa hidup berdampingan lintas generasi dibandingkan semua hal yang masih ada. Selamat membaca gambar bergerak.