#SelapanDinaNulis Kontroversi

#Dina34

Secara umum, tiga kata ini lah yang dipakai oleh KBBI: perdebatan, persengketaan, pertentangan. Bingung juga mengapa kata kontroversi bisa sebegitu jamaknya pada dekade ini. Seolah semua hal memiliki sisi ininya. Apa yang memang diharapkan sejak awal bakal terjawab dengan kontroversi? Masalahnya semua hal yang berujung dengan debat, misalnya, biasanya akan berakhir dengan percakapan-percakapan tanpa konklusi. Nihil. Kan?

Siang tadi saya mendapatkan kertas ujian Komunikasi Massa. Kebetulan yang dulu menjadi bahan presentasi saya dimunculkan di situ. “Mengapa rating menjadi kontroversi di dunia media Indonesia?” Secara normatif jelas saya lancar menuliskannya. Mengeluarkan apa yang memang menjadi opini saya sejak pertama kali berjibaku dengan tema ini. Namun secara hal-hal di luarnya, sebenarnya saya sendiri sangsi apakah normatif akan tetap saya pilih.

Kemudian ada dua pendapat yang saling bertentangan. Namun, seperti kutipan yang sering saya baca, “Semakin mencoba menolak, sebenarnya itu semakin kamu.” Maka apakah kemudian saya harus berikap netral? Atau ada padanan kata yang lebih cocok untuk alami digunakan?

Terlalu banyak tanda tanya di sini. Ketika orang lain santai saja memikirkan dan menumpahkan supaya semuanya terpenuhi. Saya. Individual. Merasa capek. Normatif. Lagi.