Tulisan di bawah saya gunakan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Komunikasi Antar Manusia.
#SelapanDinaNulis #Dina33
—
First impression itu sangat penting.
Saya masih sangat ingat ketika kali pertama melakukan tatap muka antara Mas Sulhan—Mbak Mutia dan kami, para mahasiswa baru. Baru saja masuk, baru saja memulai semester dua, baru saja mulai memahami seluk beluk komunikasi yang bakal menjadi santapan bertahun-tahun selanjutnya. Bahkan dengan kondisi “perdana” seperti itu, seolah beberapa saat kemudian bisa langsung lebur karena satu pertanyaan menohok: yakin paham apa itu komunikasi?
Sialan!
Kami saling berebutan mengutarakan pendapat. Tapi bukan untuk kelas, hanya di dalam kelompok-kelompok kecil. Saling beropini kepada mereka yang kebetulan duduknya bersebelahan atau mudah dijangkau untuk ikut dimintai pendapat.
Itu hanya permulaan, kemudian muncul kalimat ajaib berikutnya, “You cannot not communicate.” Pada level ini, pola pikir kami kembali diacak-acak lagi. Bisa jadi, sudah ada dari kami yang sadar sejak semester pertama. Namun sepertinya masih banyak yang terlihat belum familiar dengan kutipan tersebut. Malahan, diduga itu lah kali pertama mendengarnya—langsung menjadi quote of the day.
“You cannot not communicate” semacam jadi mantra ajaib yang bisa menjelaskan banyak hal. Termasuk ketika individu sedang sendiri, atau pun malah diam pada waktu sedang bersama orang lain.
Diam?
Bahkan diam saja masih dianggap sebagai bentuk komunikasi. Interaksi yang terbentuk memang bukan rupa verbal. Namun manusia tetap punya kesamaan hak untuk saling menduga-duga dari gestur yang dinampakkan lawan bicara.
Pengenalan awal ini memberikan gambaran jelas tentang fenomena apa yang akan terus menjadi fokus ke depannya. Maka kemudian saya memilihnya menjadi salah satu pertemuan terfavorit. Terlepas dari fakta, saya juga menyukai materi perspektif dalam komunikasi. Sebab di situ dijelaskan tentang level komunikan: empati, analisa, serta sintesis (kebetulan UTS lisan kemarin saya pun memperoleh bagian ini).
Kelas Komunikasi Antar Manusia selalu memiliki keunikannya tersendiri. Hal ini bisa dibuktikan ketika di malam harinya, saya sering menjadikan hasil tatap muka di kelas pagi sebagai bahan tulisan untuk project 365 days (proyek setiap hari nulis di blog selama satu tahun, www.aefanas.tumblr.com).
Apakah sebegitu “mengerikan”-nya?
Iya, mengerikan. Sebab apa yang diungkap di kelas—ini jujur, tidak ada unsur melebih-lebihkan—selalu saja nyantol di pikiran dengan durasi tidak sebentar. Saya bahkan sering mengutip kalimat-kalimat yang diperoleh dari kelas ini ketika diminta untuk memberi saran bagi curhatan teman. Termasuk ketika diungkapkan bahwa manusia belum bisa menjadi bijak ketika komunikasi intrapersonalnya saja belum matang, belum tuntas.