Project 2014 Day 142 of 365
22 Mei 2014. Selamat malam!
Kiranya saya tidak pernah memulai tulisan dengan sebuah kalimat sapaan. Beda dengan malam ini, karena yang menjadi kerisauan adalah saya perlu untuk meminta maaf kepada Seva dkk yang tadi siang telah melakukan presentasi Komunikasi Massa dengan topik pilihan Tantangan Konvergensi Media.
Selalu ada alasan di setiap sikap yang saya ambil. Kali ini, lebih ke teknis. Maafkan karena memang pikiran saya sering lebih cepat menumpuk sesuatu, sehingga ketika ingin mengutarakan hal (terlebih yang belum saya tulis kasarannya terlebih dahulu) maka yang terjadi adalah semua pikiran tadi seperti ingin keluar secara bersamaan lewat ucapan mulut, meluap-luap. Maka insiden yang sering terjadi adalah seolah saya hanya ngomong dengan diri sendiri, menggunakan bahasa yang sering saya pakai ketika berbicara secara intrapersonal.
Apa hal yang kemudian perlu menjadi perhatian? Masalahnya, ketika terjadi hal seperti itu (dan kurang beruntungnya, itu sering terjadi) adalah saya paham dengan omongan saya, namun orang lain bingung dalam menangkap maknanya. Seperti itu lah yang tadi siang terjadi.
Maka di sini saya akan menuliskan secara singkat konteks pertanyaan yang sempat saya lontarkan tadi, “Dalam era konvergensi media, karena hal yang menjadi sorotan utama kelompok kalian adalah internet, maka secara langsung maupun tidak, perusahaan media tidak hanya bersaing dengan perusahaan media, melainkan juga dengan website publik pun pribadi dan bahkan traffic-nya bisa melebihi website milik media, misalnya Kaskus atau bahkan web milik Pandji yang notabene adalah milik perseorangan. Nah, pada level yang seperti ini, mengapa tidak kalian masukkan ke dalam list tantangan yang dihadapi oleh konvergensi media?” Kemudian saya sambung, “Setidaknya, kalau tidak dimasukkan ke dalam bagian internal, bisa juga ditambah pada sisi eksternal.”
Sesederhana itu. Namun memang saya juga salah karena tidak mencoba untuk menuliskannya terlebih dahulu agar tahu bagian mana yang penting dan pantas buat dikeluarkan. Sehingga tidak perlu adanya pengulangan pertanyaan sampai tiga kali.
Penutup yang baik katanya selalu memberikan rangkuman, maka saya hanya ingin mengatakan: pikiran saya seringkali lebih cepat menumpuk informasi yang hendak diungkapkan, sehingga semua hal itu seakan ingin bersamaan keluar dari ucapan mulut. Itu masalah utamanya. Kunci penanggulangannya adalah dengan mengingat(kan) untuk terlebih dahulu menuliskan kasarannya, minimal hal itu bisa menjadi guidelines arah pembicaraan yang ingin saya bentuk. Semoga mengerti, coba.
Sudah memikirkan kembali tentang apa hari ini?
Selamat malam!