Mencukur Ketimpangan Museum [(Report) Trip to Lokananta & Monumen Pers Nasional]

Senin ini diakhiri dengan sakit hati.

Pikiran dan perasaan saya tiba-tiba menjadi sama-sama kalut. Selalu saja ketika menyangkut tontonan langsung yang menunjukkan ketidakadilan, pribadi ini menjadi sangat cengeng, maaf. Bukan pada masalah hubungan antar manusia, namun karena flashback ketimpangan yang baru saja saya lihat sendiri.

***

STUDIO LOKANANTA

Lokananta dan Monumen Pers Nasional sudah sangat cukup dalam memberikan gambaran bahwa media adalah sesuatu yang mengerikan. Media adalah provokator sekaligus penyambung lidah kemerdekaan. Apa yang dicita-citakan oleh banyak orang akan diiringi oleh media yang kokoh pula.

Lokananta memberikan banyak perasaan bersalah pada diri. Meskipun kesalahan yang terjadi bukan berasal dari saya. Hanya saja impact yang dirasakan begitu suram. Kalau mau dibayangkan seperti plot kehidupan manusia, Lokananta adalah penggambaran yang sangat mendekati hal itu. Merintis dengan pelan-pelan, merangkak, mencoba terus mengikuti alur dunia, sempat mencapai masa kejayaan, lalu jatuh, terpuruk, dan sekarang kembali merangkak, mencoba bangkit lagi. Mungkin dikira saya melebih-lebihkan, tapi hal itu lah yang kemudian membuat saya sakit hati.

28 Oktober 1956 adalah hari yang membahagiakan. Cita-cita Indonesia supaya punya perasaan saling memiliki satu sama lain sebentar lagi bakal tercapai. Minimal dengan mendengarkan berbagai musik dari banyak daerah nusantara. RRI menjadi penggawa daerah yang bertugas mengumpulkan musik lalu mengirimkannya ke Lokananta untuk diperbaiki kualitasnya dan digandakan untuk kemudian kembali dikirim ke RRI daerah. Sebuah ritme yang sangat membanggakan untuk dibayangkan kala itu.

Itu lah yang sebenarnya terjadi. Semua fase, dari piringan hitam, pita kaset, video recording, hingga compact-disc diikuti. Tumpukan media fisik yang berisi rekaman–tidak hanya musik atau instrumen kedaerahan, tapi juga rekaman pidato-pidato kenegaraan serta pertunjukan etnik dalam format suara–terus bertambah. Semua file pengiring sejarah itu lalu disimpan rapi.

Kisruh timbul setelah terjadi reformasi. Departemen Penerangan dibubarkan, Lokananta berada pada posisi sulit karena merupakan salah satu badan yang ada di bawah departemen ini. Lokananta tidak bisa berbuat banyak. Sampai akhirnya 2001 diakuisisi Perum Percetakan Negara RI. Berharap kejayaan masa lalu bisa dengan cepat diraih lagi, namun sayangnya tidak semudah itu. Sampai tahun 2014 kendala finansial terus menghantui.

Hanya ada dedikasi tulus yang terlihat di studio tua ini. Tak terbayangkan apabila tidak ada orang-orang baik yang mau mengurusnya. Aset bangsa yang tak ternilai bisa langsung hilang, padam ditiup angin perubahan. Pelan-pelan setelah milenium baru dimulai, proyek re-mastering atau mengubah bentuk rekaman konvensional ke dalam wujud digital dimulai. Ribuan piringan hitam pun pita kaset satu per satu menjalani proses ini. Ketakutan kedua menghantui di sini: jangan sampai bangsa sebesar ini kehilangan salah satu bentuk arsip sejarah yang luarbiasa vital, audio.

Lokananta adalah milik bersama. Selalu. Meski dengan kondisi ruang-ruang yang saya sendiri merasa sangat sedih ketika memasukinya, melihatnya. Saya sulit menggambarkan, tapi yang jelas butuh lebih banyak daya upaya agar bisa dibilang layak, lagi.  

MONUMEN PERS NASIONAL

Bandingkan dengan objek kunjungan pintar berikutnya, Monumen Pers Nasional. Entah mengapa saya selalu menyebutnya dengan Museum Pers. Bisa juga sih. Secara pengertian bahasa:

monumen /monumén/ (n) bangunan atau tempat yang mempunyai nilai sejarah yang penting dan karena itu dipelihara dan dilindungi negara.

museum /muséum/ (n) gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno.

Dibilang masih saudara juga bisa. Bahkan dikawinkan pun akan tetap terlihat sebelas-duabelas. Saya pribadi sangat menyukai tempat ini. Mungkin karena memang dasarnya saya suka dengan berbagai bentuk media cetak. Banyak artefak, patung, diorama, surat kabar, majalah diposisikan begitu presisi dan enak untuk dinikmati di berbagai ruangan yang ada.

Favorit saya adalah ruang digitalisasi. Ada energi tak kasat mata yang seolah membuat saya rela untuk jatuh hati. Di ruangan ini ada dua meja yang sudah terikat dengan lampu-lampu LED, seperangkat komputer, serta kamera DSLR pemindai. Di sini lah semua proses digitalisasi terjadi. Satu per satu halaman diabadikan sehingga bisa dibaca pada screen. Saya sempat bertanya, sudah berapa persen  perjalanannya? Ternyata prosesnya masih sangat panjang. Bahkan surat kabar tahun 2003 sampai sekarang masih masuk dalam waiting list.

Bayangan tentang museum kesayangan akan dengan serta merta merujuk pada tempat ini. Eksteriornya pun sudah membuat jatuh cinta bahkan sebelum memasuki ruangan-ruangan. Bisa jadi karena ini adalah sebuah monumen yang dimiliki bersama, terutama oleh para pejuang pers (PWI–Persatuan Wartawan Indonesia) dulu hingga kini, sehingga semuanya terasa berjalan mulus, khususnya masalah finansial. Cobalah kunjungi rooftop-nya. Nikmati pemandangan kota Surakarta dari puncak monumen ini. Apalagi kalau berhasil menangkap momen sore, menggembirakan.

Sampai sekarang saya masih ingat judul salah satu headline koran Asia Raya yang dipajang “Jerman Maju Terus, Sekutu Ngobrol Melulu”. Pikiran saya mulai liar karena yang muncul adalah pendapat bahwa dulu bahasa berita bisa lebih komikal.

 ***

Sama-sama objek sejarah. Sama-sama memegang peran penting dalam membimbing langkah Indonesia selanjutnya. Namun ternyata semuanya tidak bisa selalu berakhir pada kata “sama-sama”. Bentuk ketidakadilan adalah pembeda mendasar. Perlakuan yang diterima berbeda. Monumen Pers didukung langsung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, sedangkan Lokananta di bawah Perum Percetakan Negara RI.

Saya dibuat bingung lagi di sini, mengapa Lokananta tidak dimasukkan ke dalam urusan Kementerian Komunikasi dan Informatika juga? Rasanya lebih cocok, dan minimal permasalahan finansial bisa ditangani dengan lebih baik.

Cobalah melakukan kunjungan langsung ke dua tempat berbeda ini, nikmati sensasinya. Nikmati perasaan kalut yang ada, nikmati atmosfer sejarah yang menggetarkan, nikmati mesin waktu yang melaju seolah semuanya terjadi terlalu cepat, nikmati pula berbagai rekam jejak pemikiran luarbiasa yang telah berhasil ditorehkan oleh bangsa ini.