Coba-Coba – Day 105 of 365

Project 2014 Day 105 of 365

15 April 2014. Kelas Teori Komunikasi menjadi salah satu favorit saya di semester 2 ini. Seperti yang terjadi tadi, bukan pada konteks keharusan, tapi celetukan yang keluar di sela-sela hiruk pikuk kelas. Setidaknya ada satu kalimat lontaran Mbak Hermin–dosen saya–yang saya anggap sangat menggambarkan kondisi bermasyarakat kita:

“Indonesia itu suka coba-coba.”

Boleh diamini atau tidak, namun saya lihat kenyataan yang ada di sekeliling memang seperti ini. Dari dulu. Dikaitkan dengan bidang politik misalnya. Setelah Soeharto tumbang, pergantian presiden terasa begitu sangat labil, dengan rentang waktu jabatan yang acakadut. Sampai akhirnya Megawati memperoleh waktu yang cukup lama meskipun tidak penuh. Namun masyarakat menyadari bahwa di bawah kepemimpinan Mega, Indonesia tidak mengalami perbaikan ekonomi yang signifikan, adanya malah berbagai ketidakpastian kebijakan. Lalu akhirnya menjelang pemilu 2004 muncul sosok SBY yang secara cerdik berhasil muncul memanfaatkan kesempatan dengan pembawaan yang seolah meyakinkan. Nah masyarakat pun mulai punya pemikiran baru, mengapa tidak menyerahkan tanggung jawab kepemimpinan kepada orang baru ini? Jadilah periode pertama SBY, diakhiri dengan sikapnya yang berani menjebloskan besannya sendiri Aulia Pohan atas dugaan korupsi dan slogan emosional tahun itu “Berantas korupsi tanpa pandang bulu”.

Masyarakat memasuki pemilu berikutnya tahun 2009, melihat track records yang lumayan, akhirnya mereka punya pemikiran, “Ah lumayan bagus nih SBY. Coba beri kesempatan lebih.” Diuntungkan pada waktu itu lawan-lawan politiknya tidak terlihat terlalu berbahaya. Jadilah Partai Demokrat dan SBY memperoleh suara mutlak, dominan. Semua kebijakan parlemen seolah menjadi kuasa mereka dan koalisi bagi-bagi kursi yang terbangun. Ternyata pada periode kedua ini banyak sekali batu besar yang menjadi penghalang. Apalagi slogan anti korupsi yang sebelumnya didengungkan malah menjadi pil simalakama bagi internal partai. Banyak kader yang terjerat kasus korupsi, ditambah dengan reaksi tidak puas masyarakat dengan eksekusi SBY pada banyak hal yang terlihat sangat lemah dan seolah loyo.

Lalu mulai lah drama tahun 2014. Dengan pemilu yang telah terlaksana, ternyata suara Demokrat benar-benar jatuh. Muncul banyak tokoh yang tiba-tiba menjadi idola masyarakat. Mereka saling bertarung elektabilitas satu sama lain. Jokowi, Risma, Ridwan Kamil yang kebetulan adalah bagian dari usungan PDI-P ternyata disukai banyak masyarakat. Masyarakat menemukan kiblat baru, “Wah ada yang terlihat akan bersinar nih, ayo beralih dukungan!” Hasil quick count menempatkan PDI-P menjadi nomor 1 dengan hampir 20% suara, Jokowi dicalonkan sebagai presiden berikutnya.

Terlihat kecenderungan yang sangat jelas di sini bahwa masyarakat kita belum bisa benar-benar menentukan pemimpin seperti apa yang sebenarnya mereka perlukan. Dari sejarah bangsa ini, semua kaderisasi kepemimpinan masih terbaca sangat absurd. Bahkan saya yakin apabila ada yang sombong dengan pola seolah terlihat, dia hanya melakukan praduga. Karena memang dasarnya masyarakat kita tidak terprediksi, dan sayang sekali, mudah terprovokasi, padahal taruhannya adalah lima tahunan.

Sampai kapan Indonenesia akan berhenti coba-coba?

Tontonan hari ini Bates Motel Season 2 Episode 7