
Project 2014 Day 72 of 365
13 Maret 2014. Apa yang menjadi fondasi seterusnya adalah hal-hal bentukan dari sekian tahun menapakkan bekas langkah. Kali ini saya akan membicarakan hal mendasar dari film Birder’s Guide to Everything. Sebuah film tahun 2013 yang akhirnya sempat saya tonton hari ini. Tidak ada yang istimewa dari sisi penceritannya. Yang kemudian membuat saya tertarik adalah asal cerita, pun pemberian efek presentasi yang dilakukan.
Saya sering sekali menyinggung tentang suasana yang terbangun di film. Seburuk apapun naskah ceritanya, apabila gambar yang diberikan berhasil membentuk mood tertentu, hal itu bisa memberikan nilai penyeimbang. Film ini tidak bisa disebut jelek dari segi intrinsiknya, saya rasa lebih masuk kategori biasa. Beruntungnya filter dan angle yang diambil membuat saya menyukainya. Apa lagi yang bisa menghalangi perasaan bahagia setelah menonton film ini?
Bercerita tentang sekelompok anak yang terobsesi dengan berbagai macam jenis burung. Hingga pada suatu hari, mereka diletakkan pada satu keadaan: seorang anggota sepertinya berhasil mengabadikan salah satu spesies yang sudah dianggap punah. Sayangnya hasil potret yang diambil kabur. Ekspedisi pun dilakukan. Di sisi lain, tokoh utama dalam film ini diposisikan berada pada keluarga yang ibunya sudah tiada, sedangkan sang ayah ingin menikah lagi. Satu lagi nilai tambahnya: semua konflik terselesaikan.
Pada tatanan ini, akan terlihat sangat klise dan lemah dari naskah. Namun nyatanya saya berhasil dibuat nyaman lewat visual yang ada. Sama seperti waktu saya dulu menonton Another Earth, ada perasaan sejuk sepanjang pengambilan gambar. Menengok lagi satu kalimat pembuka di tulisan ini, saya hanya ingin menegaskan bahwa tokoh ini terobsesi dengan burung karena semasa kecil sering diajak hunting foto burung bersama mendiang sang ibu. Menarik. Selalu ada hal yang membekas tentang rutinitas masa kecil.
Sudah memperoleh hal baru apa hari ini?