
Project 2014 Day 33 of 365
Sudah berapa kali Anda menonton film absurd namun ada perasaan puas dan suka setelah menontonnya? Saya sebenarnya sedang mencari pembanding di sini. Karena saya merasa sangat sering bertemu dengan jenis film semacam ini. Yang kebetulan hari ini saya ulang (untuk ke-3 kalinya) adalah Scott Pilgrim Vs The World, kebetulan ini adalah film yang cukup banyak menuai kontroversi antara suka, nyaris suka dan kadang tidak suka karena alasan penceritaannya seperti saya sebutkan di awal—absurd.
Saya sendiri menyukai film ini. Film yang bagus adalah yang berhasil meramu ide cerita sederhana menjadi sesuatu yang tereksekusi luar biasa. Lagi, konteks luar biasa di sini tidak selalu berkaitan dengan efek visual, score, maupun tata artistik. Namun penyampaian cerita yang bagus dan tidak terpikirkan ‘Oh, ternyata bisa diceritakan seperti ini, toh?’ adalah masuk dalam kategori luar biasa pula.
Meluruskan banyak hal tentang gaya penceritaan itu tidak bisa selalu berujung pada kebenaran, karena lagi-lagi subjektivitas individu sangat bermain pada level ini. Teman saya ada yang merasa ilfil dengan film ini, dia pernah mengutarakan kepada saya bahwa ‘Ini film apa banget’. Ya bagaimanapun itu adalah variasi bentuk pendapat, meskipun kadangkala bentuk persilangan pendapat seperti ini bisa meninggalkan bekas kejengkelan, manusia.
Kembali pada film, Scott Pilgrim tampil menjadi sebuah suguhan yang unik di tengah-tengah mayoritas rivalnya yang lebih memilih untuk bercerita secara sederhana. Film ini menurut saya sendiri malah menggambarkan dengan jelas bahwa sebenarnya seperti itulah cara kerja otak kita. Absurd. Susah dimengerti. Katanya bikin ilfil. Pun menyenangkan. Hal lain bisa ditambahkan, yang jelas semua hal itu kemudian diramu menjadi satu membentuk sajian pemikiran selayaknya Scott Pilgrim Vs The World.
Di waktu-waktu tertentu, terutama pada saat ingin hanya berdua, intimate antara saya dan pikiran saya sendiri (ini yang saya sebut sebagai berdua), saya sering kaget sendiri karena tiba-tiba hal-hal aneh banyak sekali berseliweran saling bertukar fokus. Keadaan nyaris melamun seperti ini saya anggap sangat diperlukan karena saya memang beranggapan memerlukannya. Kadang-kadang saya tidak melihat apa-apa berseliweran, hanya suasana kosong yang tenang dan bahkan saya bisa mendengarkan buzz ciptaan isi kepala.
Oh iya, saya juga sering merasa iri dengan tokoh-tokoh fiksi. Scott ini salah satunya. Saya ingin berpikiran seperti dia: sederhana dan terlihat polos, namun ternyata menyimpan banyak hal terduga pada dirinya. Saya pikir hal itu akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Suatu kali mungkin saya pernah memiliki hal ini dalam jumlah besar, namun lagi-lagi itu tidak berlangsung intens, meskipun tetap ada bentuk endapannya yang cukup hanya untuk konsumsi pribadi.
Saya tidak menjadikan tulisan kali ini menjadi sebuah review formal, karena saya menganggap review informal kadang lebih bisa memiliki cabang. Artinya Anda bisa bebas menyimpulkan sendiri tanpa harus merasa ada kewajiban untuk pakem mengikutinya. Pada intinya, dari pengelihatan pribadi, Scott Pilgrim Vs The World memang tampil seabsurd dan semenyenangkan tulisan ini.
pakem (a) kuat mencekam
Nb. Tagline Scott Pilgrim Vs The World sebenarnya sudah menjelaskan keseluruhan isi film ini: An epic of epic epicness. Hahaha. 😀