Terus Jalan – Day 17 of 365

image

Project 2014 Day 17 of 365

Satu hal yang saya pelajari sesaat setelah selesai menonton Mandela: Long Walk to Freedom (2013) adalah saya tidak perlu susah sekarang ini untuk menyuarakan suatu hal. Setidaknya yang berkaitan dengan kekuatan mental pikiran untuk bersikap kritis pada suatu permasalahan. Tokoh di masa lalu sudah menyajikannya dengan tatakan nikmat, tinggal kita mau terus menikmatinya atau membuangnya saja hingga berangsur kembali ke masa kelam dan harus memperjuangkannya lagi.

Dengan sudah mendapatkannya bukan berarti bahwa kata ‘berjuang’ ikut usang. Bukan berarti itu hanya milik para veteran untuk menjadi bahan cerita anak cucu. Sama beratnya antara memperjuangkan yang belum ada untuk menjadi ada dan juga mempertahankan sesuatu agar terus konsisten berjalan dinamis. Tugas generasi kita ada di poin ke dua. Entah mengapa, tapi saya selalu bangga dengan generasi kita. Seburuk apapun sikap kita sekarang, saya melihatnya kita masih lebih profesional daripada mayoritas pemegang kuasa sekarang ini. PR utamanya sama: bisa terus dipertahankan atau tidak sikap profesiona ini?

Ketika kelas X, guru Bahasa Indonesia sempat bercerita, “Dulu tahun 70-an guru bapak pernah berujar dengan semangat berapi-api, ‘Anak-anak, kita patut berbangga hati karena sekarang Indonesia masuk sebagai bagian dari negara berkembang!’ Itu yang dulu dikatakan oleh beliau. Namun sekarang, tahun 2010, saya tidak bisa begitu saja mengujarkan kalimat itu dengan bangga di hadapan kalian, masa saya harus bilang, ‘Anak-anak, kita patut berbangga karena sampai tahun 2010 ini Indonesia masih bisa disebut negara berkembang!’ Kapan majunya?” Sekelas tertawa lebar mendengar ucapan ini, namun saya sendiri (tidak tau dengan pikiran teman lain) merasa bahwa ada yang tidak beres dengan semua hal yang terjadi di negara ini. Sering saya berpikiran semacam ini. Rasa tidak puas itu belum juga sirna sampai sekarang. Saya melihat bahwa kita memang bisa meraih kemerdekaan tahun 45 silam, namun menginjak periode-periode selanjutnya bentuk pertahanannya memang dalam bentuk bertahan, artinya bersifat statis.

Tulisan kali ini saya merasa bahwa subjektifitas saya sangat menonjol, namun saya berusaha sebisa mungkin untuk tetap berdasar apa yang saya yakini. Tetapi di film Mandela ini saya benar-benar belajar banyak hal mengenai perjuangan dan bagaimana harus terus memperjuangkannya setelah didapat kesetaraan. Mungkin tidak tepat memang menggunakan kata mempertahankan setelah memperoleh kemerdekaan. Sepertinnya harus direvisi bahwa setelah berjuang untuk kebebasan, maka yang dilakukan kemudian adalah berjuang untuk terus bebas dari tekanan pihak-pihak lain agar tidak menjadi repihan.

Sudah berpikir bebas hari ini?

repih 1 (a) mudah dipecahkan (seperti roti kering); 2 (n) repihan: potongan-potongan kecil; serpihan.