
Project 2014 Day 4 of 365
Karena kita suatu saat–kalau bersedia–akan mengalami titik ketika kita tidak lagi memikirkan apapun di luar yang kita harapkan. Pandang saja seperti meditasi. Saat kita tenang, pikiran kita benar-benar ikut melakukannya, tidak mengembara ke mana-mana–yang saya yakin hampir semua dari kita masih mengalami hal ini–sehingga bahkan kita bisa mendengar suara-suara alam yang seharusnya memang ada kalau kita sudah bisa tenang, fokus. Layaknya suara angin, denting perkakas yang biasanya luput dari pengindraan, suara kicau burung, bahkan derit gagang pintu. Ini masih ada kaitannya dengan yang dikatakan oleh pembimbing KACA, Mas Agung, kemarin sore. Sekali lagi, saya mengiyakan hal ini.
Selain itu, hari ini saya berkutat dengan tugas take home yang perlu proses editing lagi, pada akhirnya memang editing memakan banyak waktu. Iya, saya sudah menyelesaikannya, namun itu baru selesai di tahap penulisan saja. Saya termasuk ‘wajib’ melakukan editing minimal sekali untuk setiap tulisan yang telah dibikin. Sudah menjadi suatu kebiasaan dan hal yang kemudian saya syukuri.
Di sela-sela proses menyunting itu, saya menyelesaikan menonton Sherlock Holmes season 3 episode 1 yang diberi judul The Empty Hearse (2014). Saya bisa berkata bahwa ini menjadi salah satu episode Sherlock paling favorit! Saya mendapati banyak sekali hal bijak, lucu, pun mengharukan di sini. Ujian ketika persahabatan bertahun-tahun itu sengaja diskenariokan supaya bisa memperoleh ekspresi absurd sahabatnya, 2 tahun dibohongi tentang kematiannya. Saya suka scene yang sudah ter-capture di atas. Dengan dialog-dialognya. Biar saya kutipkan lagi:
John Watson: Oh, God! Why am I the only one who thinks that this is wrong?! The only one reacting like a human being?
Kemudian Sherlock menimpali:
Sherlock: Over-reacting! Over-reacting.
Anda yang belum menonton episode ini, saya anjurkan segera melakukannya. Ketika menonton bagian ini, saya benar-benar tertawa lepas, tertawa konyol, melihat ekspresi John Watson yang tertipu mentah-mentah oleh trik Sherlock. Sebenarnya ada satu scene lagi di akhir film yang menjadi favorit saya juga, namun kalau ditulis di sini bakal jadi spoiler, jadi ya, berlaku bijak lah: tidak menebar spoiler di sini. Meskipun saya adalah orang yang sama sekali tidak keberatan dengan apapun bentuk spoiler-nya.
Berbicara mengenai “over-reacting” alias berlebihan dalam menyikapi sesuatu, saya jadi ingat bahwa lagi-lagi Mas Agung pernah berujar bahwa: hal terberat yang dialami ketika menjadi remaja adalah sewaktu mendapat masalah dan kemudian otaknya beranggapan bahwa mereka adalah orang termiris sedunia, mereka berpikir bahwa nasibnya saat tertimpa problema itu adalah yang paling sulit posisinya. Padahal sebenarnya tidak! Kalau mau sedikit wise, masalah tidak penting yang berhubungan dengan over-reacting ini seharusnya bisa sangat tereduksi. Karena bagaimanapun, sebab permasalahan ini kemudian banyak timbul dampak negatif dan kemudian berakhir pada hal-hal yang memang tidak bermutu, seperti bunuh diri, nenggak racun dan dumb ways to die lainnya. Semua hal yang terjadi harusnya jelas bisa ditentukan khiarnya.
Sore tadi semestinya saya mengambil pesanan barang di Kedai Digital, namun urung karena bisa sekalian besok saja.
Sekarang saya sedang memikirkan sesuatu.
Bagaimana dengan hari Sabtu (ah, sekarang malam Minggu, ya?) Anda?
khiar (n) pilihan yang terbaik antara dua perkara untuk dilaksanakan atau ditinggalkan.