Muncul pertanyaan: Kenapa memilih Ilmu Komunikasi UGM? Maka saya akan menjawab: Karena jurnalisme dan kajian film. Sebenarnya ada satu lagi, yaitu iklan. Namun pada kelanjutannya, yang memegang peran paling besar adalah dua hal pertama yang tadi saya sebut pertama.
Ilmu komunikasi sudah yakin menjadi incaran saya sejak masuk kelas XI semester 2, dan waktu itu kebetulan saya memilih IPA, bukannya IPS. Kemudian sejak saat itu, ketika ada yang bertanya kenapa ingin masuk komunikasi? Maka saya refleks menjawab: Mau jadi jurnalis.
Saya tahu bahwa dunia jurnalisme adalah hal yang sesuai dengan kemampuan dan semangat saya, terlebih setelah saya mengikuti Jambore Bahasa dan Sastra Nasional 2011 di Jakarta, kemudian saya juga lolos seleksi sebagai kru reporter Kaca KR (rubrik remaja SMA, biasanya terbit di hari Jumat pada surat kabar Kedaulatan Rakyat). Lewat Kaca itu lah saya mulai mengenal lebih jauh apa itu jurnalisme. Kami kru Kaca memiliki pembimbing bernama mas Agung. Dia sangat terbuka, berwawasan luas, dan selalu senang membagi ilmunya pada kami. Ditambah lagi, ketika di Kaca tidak hanya kumpul untuk formalitas membahas edisi terbit, namun hingga menjadi alumni (kami menyebutnya Padakacarma) hubungan lintas angkatan Kaca masih terjalin kuat (saya angkatan #18). Lewat Kaca ini lah saya membuat rekam jejak lagi dan di situ saya sangat menikmatinya, bukan menjadi suatu paksaan. Setelah sekian bulan, intinya setelah 4 edisi terbit (pernah dapat tambahan edisi juga) yang menjadi tanggungjawab kelompok selesai, muncul lah banyak obrolan di luar aktivitas Kaca, membahas besok mau melanjutkan di mana bahkan sampai curhat pribadi, ternyata alumni Kaca banyak yang masuk ke ilmu komunikasi, ada jurusan lain juga, tetapi persentase yang masuk ke prodi ini tetap paling banyak.
Selain jurnalisme, saya juga suka mengkaji film. Semenjak masa SMA, saya banyak sekali menonton film-film lama hingga yang baru, kemudian ada pula beberapa yang saya ulas. Film yang saya tonton tidak lagi hanya sebagai hiburan, saya berpendapat bahwa film juga harus memberikan timbal balik yang positif kepada penontonnya, memiliki plot yang bagus serta akting serta teknis yang tidak mengecewakan. Dalam jangka waktu mulai kelas X SMA sampai hari ini, setidaknya saya sudah menonton lebih dari 1000 film. Ada yang tahun pembuatannya 1930an sampai masuk masa milenium, pun film bisu hitam putih sampai film suara berwarna. Awalnya memang menonton film hanya sebagai hobi penggembira saja, namun lama kelamaan hal itu ikut andil ketika saya juga mulai mengulas dan tertarik belajar membuat film, menulis skenario (untuk film), kemudian mempelajari berbagai hal dasar lain dalam film. Film memberikan banyak sekali gambaran dunia kepada saya, sudut pandang yang ditawarkan sangat beragam, dari yang sederhana sampai yang rumit, bahkan seringkali tidak terpikirkan oleh kita kebanyakan.
Maka kemudian saya yakin, bahwa jurusan yang bisa memberikan kedua hal di atas secara bersamaan, jurnalisme dan kajian film, hanya ilmu komunikasi, serta UGM lah yang saya pilih. Saya benar-benar tidak memiliki plan B seandainya tidak diterima di jurusan ini. Sewaktu mengisi pendaftaran SNMPTN (jalur undangan lewat nilai rapor dan prestasi), meskipun disediakan 4 pilihan, saya hanya memilih 1, ilmu komunikasi UGM, tanpa cadangan. Dan alhamdulillah, saya sangat bersyukur ternyata Allah SWT memang memberikan jalan di sini, saya diterima lewat jalur undangan meskipun penjurusan SMA dari IPA. Pada masa awal kuliah ini, saya sudah bertemu banyak sekali teman-teman baru yang hebat, sangat beragam, nyambung dan yang paling jelas adalah kami sama-sama rame alias banyak polah. Apa pun konsentrasi saya besok semester 3, media atau pun strategis, saya selalu siap, karena ilmu komunikasi adalah pilihan saya, tinggal memantapkan langkah.