Recovery – Day 30 of 365

Project 2014 Day 30 of 365

Saya jarang mengeluh, tapi saya sering menginginkan sesuatu. Misalnya hari ini. Kamis 30 Januari 2014, hari ke-2 saya terserang sakit tahunan yang kemarin sudah saya jelaskan. Bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dinikmati. Alih-alih saya mengeluh, saya lebih senang berkata bahwa saya ‘menginginkan’ keadaan di mana saya tidak perlu merasakan sakit ini.  Perparahan yang ada, ini pasti terjadi setahun sekali.

Untungnya kali ini terjadi sewaktu saya liburan semester, sehingga tidak perlu menambah beban pikiran serta batin. Masalahnya tahun kemarin, sakit ini muncul saat bulan September, ketika saya tidak libur, dan harus ngampus. Bisa dibayangkan betapa tidak berdayanya saya. Pun tetap dengan gejala yang sama, ditambah sesuatu yang saya tidak sukai: nafsu makan tiba-tiba hilang. Tadi pagi saya hanya mampu memakan sesuap nasi saja, meskipun saya sudah terlanjur memenuhi piring. Apadaya ketika tubuh menolak segala hal untuk masuk? Bahkan air minum pun rasanya mendadak tidak enak.

Dari pagi sampai siang saya hanya bisa rebahan di kasur, tanpa benda elektronik di sekitar yang memang sengaja saya singkirkan. Lalu menjelang sore, mungkin gegara saya sudah berusaha memahami sakit ini dari kemarin, perlahan rasa sakitnya berkurang dan malam ini 70% rasa sakitnya sudah terangkat. Memang alay ini penyakitnya, datang tidak dijemput, pulang tidak pamit, ngeloyor aja. Syukurlah!

Karena kondisi sampai sore tadi tidak memungkinkan, akhirnya saya juga terpaksa membatalkan janji untuk datang pada rapat pengurus di Sekretariat Kaca. Melewatkan hal asik (lagi). Penghibur yang ada, hari ini saya kuat untuk menonton film lagi pada malam hari setelah cobaan sakit ini berangsur pulih.

Tontonan kali ini adalah About Time (2013) film yang diarahkan oleh Richard Curtis, orang yang sama di balik fenomena Love Actually beberapa tahun silam. Sudah bisa membayangkan bagaimana bentuk film ini?

Ya. Kisah romantis berbalut komedi yang menyenangkan dan mengharukan. Seorang ayah memberitahu anak lelakinya sewaktu sudah berusia 21 tahun bahwa setiap keturunan laki-laki di keluarga mereka sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan travel time. Namun kemampuan itu tidak bisa dipakai untuk mengubah sejarah dunia, hanya bisa untuk mengubah nasib diri sendiri dan sekelilingnya. Memberikan kita banyak sekali alternatif gambaran tentang kehidupan manusia. Pasti akan sangat nendang ketika ditonton oleh kita yang mendambakan sebuah keluarga yang saling menyayangi sampai happily ever after.

Kalau pernah nonton The Butterfly Effect, About Time ini merupakan sebuah versi lebih ringannya, dan lebih bersahabat dengan penonton tentu saja, karena genrenya adalah komedi romantis science fiction. Menyenangkan ketika saya menyelesaikan film ini yang berdurasi dua jam, saat credit title keluar saya hanya bisa berkecumik: Saya kira film drama romantis paling ngena tahun 2013 cuma dipegang oleh The Spectacular Now, ternyata dia juga ada temannya(!), About Time adalah sebuah presentasi yang sempurna dari departemen pemain, akting, serta script untuk genre ini. Well done!

Sudah merasa nyaman hari ini?

kecumik (n) mulut yang bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara;
berkecumik (v) berkomat-kamit