Days of Future Past – Day 141 of 365

image

Project 2014 Day 141 of 365

21 Mei 2014. Apa yang bisa dibayangkan pada sebuah karya produksi yang berbudget US$ 250 juta atau sekira 2,5 triliun rupiah? Hal yang paling pasti dipasangkan adalah ekspektasi tinggi.

Saya sendiri menjadikannya demikian. Secara khusus saya selalu mengatakan bahwa tidak memfavoritkan bahkan cenderung biasa saja kepada film-film Marvel, kecuali untuk franchise X-Men. Untuk kategori karakter superhero, saya lebih menyukai DC Comics. X-Men adalah anomali, dia memiliki kesempatan yang luarbiasa besar dibandingkan film-film Marvel yang lain. Bahkan kalau mau dibandingkan dengan The Avengers, X-Men tetap berada pada level di atasnya. Mengapa?

Secara umum, kesamaan X-Men dan The Avengger adalah sama-sama film keroyokan. Namun kalau mau ditarik garis lurus, The Avengers lebih banyak memiliki sisi kelemahan cerita/ plot karena memang apa yang disajikan adalah banyak cerita terpisah yang sengaja dijadikan satu (ini adalah salah satu alasan pula mengapa Justice League milik DC saya lihat lebih natural). X-Men berhasil menutupi lubang itu dengan meletakkan batu pertama bahwa mereka adalah kelompok mutan. Dan karena opini itu sudah dibangun sejak awal, maka seaneh apapun tokoh baru yang ditampilkan, semuanya masih bisa dianggap rasional. Viva la X-Men!

Itu tadi sedikit gambaran tentang keseluruhan X-Men dan pembanding dengan The Avengers. Memasuki ranah Days of Future Past, bagi Anda yang sangat bisa menikmati First Class tahun 2011 silam, maka film ini adalah kenikmatan berikutnya. Merupakan gabungan antara masa depan dan masa lalu yang sengaja dijabarkan karena ingin mengubah apa yang telah terjadi. Sebenarnya lebih tepat: mencegah.

Tokoh-tokoh yang telah dimatikan di film-film X-Men sebelumnya bisa dijumpai lagi di Days of Future Past. Tapi jelas seperti para pendahulunya, di film ini muncul tokoh-tokoh baru juga. Malahan lumayan banyak. Kalau mau dianggap sebagai sebuah film reuni, bisa juga. Dengan durasi lebih dari dua jam, Bryan Singer yang kembali memegang tahta director akhirnya mampu membayar impas atas kesalahanya terdahulu (setidaknya kami, para fans, menganggap X-Men 3 adalah kesalahan fatal yang diperbuat oleh Bryan).

Muncul pertanyaan: apakah yang ingin menonton film ini harus menyaksikan dulu film-film pendahulunya?

Nah, ini adalah salah satu kelebihan yang dimiliki Bryan tiap membuat film. Dia berhasil menyajikan DoFP sebagai sajian yang sangat universal. Artinya bahkan Anda yang belum pernah menonton satupun franchise X-Men sebelumnya pun akan bisa larut menikmati film ini.

Menurut saya sebagai penggemar X-Men: 9 dari 10

Jadi, masih mau cari alasan apa lagi buat tidak menonton salah satu film paling dinanti-nanti tahun 2014 ini?

Professor Charles Xavier: So many battles waged over the years… and yet, none like this. Are we destined to destroy each other, or can we change each other and unite? Is the future truly set?