
Project 2014 Day 150 of 365
30 Mei 2014. Siang tadi mengenyangkan. Habis Jumatan, saya harus segera ke Fisipol untuk mengembalikan handout dan buku titipan yang sebelumnya telah saya scan untuk diunggah di tumblr angkatan. Namun sebelum berangkat bapak memaksa saya untuk memakan nasi dulu sekaligus bubur kacang ijo yang dibelikan tiga jam sebelumnya. Menjadi agak terlihat salah karena habis dibelikan tidak langsung saya makan, kebetulan deraan ngantuk menghantam, jadi tadi saya lebih memilih untuk tidur terlebih dahulu. Duo nasi dan burjo itu lah yang sepertinya membuat saya masih merasa kenyang hingga malam ini.
Sore tadi akhirnya terlaksana juga program upgrading batch 1 yang telah direncanakan sejak beberapa minggu sebelumnya. Berjumlah sembilan orang, sebenarnya konsep yang dilaksanakan lebih condong pada praktik lapangan. Kami diminta menuju ke aula untuk menyaksikan jalannya lomba Standup Comedy untuk pelajar SMA. Kalau mau minta pendapat saya: datar.
Dari konsep acara yang minimal akan menimbulkan pemikiran, “Wah, bakalan asik nih!” Tapi nyatanya bagi saya sendiri hanya terlihat seperti omongan tanpa bobot. Banyak di antara peserta yang saya lihat kehilangan jati dirinya, penjelekkan diri sendiri pun keluarga menjadi primadona, masalah-masalah percintaan layaknya sistem pasar monopoli, pun permasalahan yang tidak patut dijadikan guyonan semacam menjadi modal dasar. Kurang etika.
Selesai menontonnya, kami kembali lagi ke sekretariatan untuk mendiskusikan masalah-masalah yang ditangkap. Kalau dari saya sendiri, fokus yang tertangkap adalah masalah kehilangan jati diri (banyak dari mereka yang seolah sengaja meniru gaya komika lain, keunikan pribadi seperti sengaja ditutupi), serta masalah fisik (pada kesempatan ini, warna kulit yang paling banyak mendapat porsi hinaan) menjadi guyonan paling laris.
Secara umum saya memandang bahwa sebutan standup comedy sebagai humor cerdas masih jauh dari pemaknaan yang diminta. Mungkin ada beberapa orang yang sudah mampu menyajikannya sebagai guyonan cerdas. Namun hal itu tidak sebanding ketika masih banyak orang-orang yang mencoba ber-standup comedy dengan konten pun pembawaan asal, tidak terlihat sisi cerdasnya. Ketawa tidak, terhibur apalagi.
Masih perlu banyak tinjauan untuk memahami apa sebenarnya esensi yang memang dicari. Jangan karena sedang happening maka semua tiba-tiba mengikuti, hanya karena ikut-ikutan tanpa punya modal pemahaman yang cukup, malah bisa jadi bumerang bagi tuannya sendiri. Mungkin juga saya masih harus banyak belajar memahami sisi-sisi humor yang coba ditawarkan orang lain. Yang saya lihat bukan sebagai bagian dari humor.
Sudah menilai apa hari ini?
Tontonan hari ini tiga episode terakhir di Kyle XY season 1. Siap melaju ke season berikutnya.