#SelapanDinaNulis Debat Calon

#dina10

Timeline twitter saya terbanjiri oleh banyak kicauan mengenai Debat Calon Presiden batch satu petang ini. Tidak melulu satu kubu pendukung. Ada yang pro dengan satu, ada yang pro dengan dua, ada yang menunjukkan dukungannya tapi disertai embel-embel “belum tentu mau nyoblos”, lagian tetap masih ada golongan putih.

Sampai pada beberapa titik, sepertinya saya mulai bosan dengan dinamika politik. Meski politik adalah salah satu bahasan yang selama ini sering saya ikuti, dan kebetulan menyukainya. Yang terjadi sekarang ini adalah banyak sekali bentuk pencelaan satu dengan lainnya. Ya otomatis kadang saya juga lepas kontrol meskipun tindakan yang keluar seringnya implisit, perlu penafsiran dulu. Tapi jelas saya ingin menunjukkan di posisi mana sebenarnya posisi saya.

Sulit untuk menjaga netralitas ketika melihat banyak sekali ketidakadilan yang berkedok kampanye hitam. Karena hal yang selama ini saya pegang, fitnah seperti dalam bentuk kampanye hitam (sebenarnya apapun bentuknya) adalah musuh bagi segala makhluk. Kalau kehabisan bahan untuk kampanye negatif, ya gimana caranya lah biar kampanye hitam itu tidak dijadikan pelarian. Konyol ketika menyaksikannya secara langsung.

Belum ada yang menang maupun kalah karena pertarungan baru saja ditiup penandanya. Namun tetap saya yakin di posisi saya lah kemenangan itu akan berpihak, Tuhan bersama orang-orang baik.

9 Juni 2014 – lagi-lagi nyaris tengah malam