Locke – Day 184 of 365

Project 2014 Day 184 of 365

3 Juli 2014. I’m not a fan of Tom Hardy. Setidaknya untuk film-film yang pernah ada dia di dalamnya, tidak sampai membuat saya merasa harus rutin mengikuti filmography-nya. Beda kasus dengan Joseph Gordon-Levitt yang secara terang-terangan berani saya sebut sebagai aktor favorit. Namun bukan berarti karir Hardy terlihat buruk di mata saya.

Dia adalah aktor yang hebat. Selalu berani tampil total dalam setiap penampilannya. Tentu total yang bukan dalam artian layaknya Johny Depp. Tapi total milik Hardy adalah kemampuan dan kapasitas akting yang dia tawarkan. Seringkali bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa dia bisa sangat nekat dalam memperdalam karakter. Mungkin ingat dengan karakter Bane di The Dark Knight Rises, dibawakan dengan gahar dan rela mukanya ditutup sepanjang durasi film, pun suaranya didistorsi. Namun Locke tidak tampil demikian.

Locke adalah salah satu film yang secara berani hanya mengambil seting di satu tempat: BMW. Ya, di dalam mobil dengan durasi satu setengah jam. Konflik-konflik yang ditawarkan diperoleh melalui panggilan-panggilan telepon. Entah itu dari keluarganya, kolega, pun selingkuhannya.

Karena seting yang fokus di satu tempat ini lah, menjadikannya sangat mudah untuk dinilai secara kasat mata. Tom Hardy harus memiliki siasat tingkat ahli supaya tidak terjadi “awkward moment” dalam setiap scene-nya. Tentu dia dipaksa untuk bisa menunjukkan gesture natural tanpa adanya embel-embel buang durasi. Dan untungnya, jam terbang seakan memang membuktikan kemampuan dalam menangani tantangan semacam ini.

Bisa saya katakan, Locke tampil brilian dalam menghadapi para kompetitornya hingga pertengahan 2014. Film ini menayangkan keindahan dialog-visual dan sinematografi epik dalam keterbatasannya. Dengan sesekali melakukan tembakan kamera keluar dari mobil untuk menangkap taburan lampu jalan. Hingga sulit rasanya untuk menjatuhkan film ini. Saya yakin satu-satunya alasan yang bakal sering dipakai kalau mau mengritiknya adalah penggunaan kamera yang dinamis, alih-alih steady. Atau kalau mau lebih konservatif, konflik yang hanya timbul dari audio bisa juga dipakai sebagai pembelaan penonton. Namun hingga saya menyelesaikan credit title, hal itu bukanlah masalah besar. Malahan itu membuat saya sangat puas sepanjang durasi. Sang sutradara wajib memperoleh apresiasi tinggi untuk karyanya yang satu ini, tentu saja apresiasi itu harus dibagi dengan Tom Hardy yang berhasil unjuk gigi tentang penanganan diri yang baik. Salah satu film terbaik yang pernah saya tonton.