Project 2014 Day 194 of 365
13 Juli 2014. Hanya sedikit orang yang benar-benar bisa terus menjalankan apa yang diinginkan apabila terpaan cobaan terus datang. Dan sore tadi, setidaknya saya bertemu salah satu dari orang itu.
Namanya Galuh Larasati. Biasa dipanggil Mbak Atik. Beliau menulis novel bermuatan lokal bertajuk Nawung. Kalau mau jujur, sebetulnya, sebelum bertemu langsung, ekspektasi saya benar-benar standar. Sebab dari apa yang saya baca sampai tengah-tengah novelnya, bentuk kenormatifan seolah menguasai. Hal itulah yang membuat saya belum sempat menyelesaikannya. Lalu kemudian tadi Imas berujar kalau bagian asiknya ada di belakang. Oke. Saya agak menyesal karena belum tuntas, dan sepertinya bakal lanjut membacanya setelah hari ini habis melakukan tatap muka langsung dengan penulisnya.
Omong-omong, sebenarnya sampai saat ini, menurut saya orang paling misterius adalah penulis. Sebab apa yang kita baca, belum tentu itu adalah gambaran langsung untuk out look penulisnya. Meskipun gaya tulisan seseorang memang bisa menggambarkan dengan jelas tentang hal itu. Namun biasanya perlu ada perlakuan-perlakuan khusus agar apa yang tertulis, memang riil di kenyataan. Bisa jadi malah orang itu tidak terlalu pandai berujar lisan, sering mengandalkan tulisan, namun sebetulnya asik diajak berdialog setelah menemukan penghubung yang sama-sama nyaman.
First impression buat Mbak Atik sungguh menyenangkan. Dari apa yang dibagi, benar terlihat sosok yang bakal enak kalau diajak ngobrol. Bisa jadi karena beliau selalu memegang petuah yang diberikan bapaknya.
Dasar untuk hidup manusia itu dua: senantiasa berbuat baik dan menghormati orang lain.
Dari cerita-cerita yang dibagi tadi, saya melihat memang dua hal itu yang selalu menjadi fondasi utama. Apapun kondisinya. Berbuat baik dan menghormati manusia memang terlihat sangat klise. Namun apakah hanya karena sebutan “klise” lalu semua orang mau melakukannya? Seringkali malah hal-hal semacam itu menjadi suatu yang paling dihindari. Sehingga klise kini lebih sepadan dengan anti mainstream, beda di mulut, beda di pengertian bahasa.
Dari pengalaman Mbak Atik yang saya tangkap, berbuat baik pada sesama bisa ditafsirkan menjadi aksi yang luarbiasa banyak. Apalagi menghormati orang lain. Contoh kongruen hal ini adalah selalu melakukan hal apapun, meskipun kecil, tapi total. Intinya adalah total.
Lalu ada tiga kata yang sering diulang-ulang pada saat sharing tadi: membacalah, menulislah, berdiskusilah. Cukup tiga itu. Jelas saling terkait, mau disadari atau tidak. Ngeri mengetahui impact yang ditimbulkan. Bukan pada artian negatif, tapi malah sebaliknya. Ngeri yang sampai bisa memengaruhi pandangan seseorang, entah baik atau buruk. Namun memang saya telah merasakannya sendiri. Baca, nulis, diskusi adalah pintalan benang segala aspek, jelas ada dampak bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sudah berdiskusi tentang apa hari ini?
Tontonan hari ini: trailer Nawung, saya kaget ketika menyadari bakal ada film animasi Indonesia yang sekeren ini. Menarik! Rencananya akan berdurasi 90 menit. Saya sudah tidak sabar menunggunya selesai dibuat. Apalagi tadi Mbak Atik bilang, sedang total dan fokus dalam penyelesaian ini. Bocoran: gayanya mirip film-film produksi Studio Gibli.