Tahun 7

#20thPROJECT

#week7

7 Tahun

12 Juni 2014.

Selamat datang di level kehidupan berikutnya. Saya mulai memasuki jenjang bernama “sekolah.” Mengawalinya di sebuah Sekolah Dasar milik yayasan Muhammadiyah. Bukan tanpa alasan mengapa saya memutuskan mau bersekolah di sini, utamanya: dekat dari rumah.

Serius, sekolah ini berada satu dusun dengan rumah saya. Sehingga kalau saya berangkat atau pulang sekolah jelas lebih memilih untuk jalan kaki. Hal lainnya, karena di sekolah ini saya seolah cuma pindah lokasi, teman-temannya mayoritas itu lagi-itu lagi. Namanya juga konsekuensi tinggal di sebuah lingkungan yang masyarakatnya memang tidak mau repot jauh-jauh.

Omong-omong tentang SD, saya bangga dengan SD ini. Bukan karena bangunannya yang megah atau muridnya yang banyak (dua hal tersebut kebetulan hanya fiktif belaka), namun karena lokasinya yang sangat nylempit. Bahkan saya berani jamin, era itu, kalau Anda dari luar lingkungan dusun atau desa yang mencoba mencari SD Muhammadiyah Dhuri, jelas bakal mengalami kendala. Berada di antara permukiman penduduk, jadi ibaratnya, semua penjuru jalan masuk ke SD itu diblokade oleh rumah warga, sehingga akses masuknya sangatlah sempit.

Alasan kedua, karena simbah putri saya (ibu dari ibu saya) mengajar di SD ini. Mengampu mata pelajaran pendidikan agama Islam. Saya jadi lumayan bisa bersombong diri. Ingat dulu saya pernah menghardik teman saya dengan mengatakan, “nek kowe nakal mengko tak andakke simbahku.” (kalau kamu nakal nanti saya laporkan ke simbahku)

Jangan remehkan kekuatan legacy itu ya. Apalagi fakta lapangan yang saya temui adalah anak-anak seumuran. Jelas mereka lalu takut menakali saya. Saya memperoleh perlindungan alami. Hahaha, lucu juga kala itu. Saya jadi berteman baik dengan mereka.

Sesungguhnya, di kelas I SD ini saya merasa sangat kopong. Tidak paham dengan apa yang dipelajari. Kebetulan juga karena saya pada level ini ternyata belum bisa membaca dengan baik. Bahkan kemampuan bahasa Indonesia saya benar-benar tiarap.

Pernah di pekan pertama bersekolah, kami diberi tugas untuk menuliskan angka dalam bentuk kata (e.g. 1 = satu). Sialnya saya, karena di keseharian selalu menggunakan bahasa Jawa, maka kesulitan itu menghampiri dengan sukarela. Oke, satu sampai tiga bisa lah. Tapi menginjak angka 4, saya kesulitan, saya tidak tahu bahasa Indonesianya 4, maka di kertas saya tulis “papat.” Lima dan enam tidak masalah, sebab penulisannya hampir sama, sepuluh juga tidak masalah. Kesalahan kembali terulang di angka delapan dan sembilan, alih-alih saya tulis seperti itu, malah dengan santai tertera “wolu” dan “songo.” Lalu klimaksnya adalah, karena saya tidak tahu bahasa Indonesia dari 7, maka kemudian tanya ke teman, kami sepakat menamainya “tuju,” dan ternyata salah, yang benar adalah “tujuh” pakai “h.”

Secara jujur, pelajaran bahasa Indonesia pada kelas I ini adalah salah satu yang paling saya hindari. Betapa repotnya ketika mencoba melakukan adaptasi bahasa lagi setelah sudah terlalu nyaman di kubangan lumpur sebelumnya.

Tapi harus Anda tahu, di triwulan 1, 2, dan 3, saya di kelas selalu berada pada ranking 3.

Sampai jumpa pekan depan.