#20thPROJECT
#week11
11 Tahun
10 Juli 2014.
Pada usia ini, ada dua hal yang benar-benar saya ingat: gempa bumi dan sunatan.
Sabtu, 27 Mei 2006. Saya baru saja bangun. Benar-benar masih berada di kasur. Sedang mencoba menata benda koleksi yang berada di meja samping. Tiba-tiba tembok saya bergoyang dahsyat. Saya jelas kaget. Bayangkan, untuk anak berusia 11 tahun yang belum pernah mengalami gempa sebelumnya, tiba-tiba harus berhadapan langsung. Pagi-pagi. Hampir satu menit. 5,9 SR.
Bahkan ketika saya sudah keluar, hampir saja tertimpa pagar batu milik tetangga yang rubuh sebab saya sedang jongkok. Saya kira tidak ada padanan kata maupun kalimat yang cukup pas untuk menggambarkan saat itu. Kejadiannya sangat cepat dan mencekam. Simbah saya sampai tidak bisa berjalan sehingga harus ngesot dari dapur ke luar rumah. Adik saya yang masih tidur langsung digendong bapak. Selang beberapa jam, ada saja yang menyebarkan isu konyol tentang tsunami. Jelas saja warganya langsung banyak yang panik dan pergi ke tempat yang lebih tinggi. Dilema juga ketika mengarah ke utara, sebab ketika itu Merapi juga sedang bergejolak.
Malam itu rasanya sangat gelap meskipun listrik di daerah saya menyala. Tidak ada yang berani tidur di dalam rumah. Maka semua menggelar kasur di luar, di teras. Simbah juga ikut tidur di teras kami. Masalah belum selesai, kebetulan malam itu juga hujan, sehingga kasur yang di pinggir jelas basah. Beberapa hari kemudian, saya dan bapak coba berkeliling melihat keadaan. Ngeri. Banget. Saya nangis lihat kondisi Jogja pasca gempa.
Selang beberapa bulan kemudian, karena masih dalam suasana Jogja bangkit, maka Rumah Sakit Islam mengadakan sunatan massal. Orangtua saya tidak mau mengeluarkan uang lebih, jadi saya tiba-tiba langsung didaftarkan. MasyaAllah, itu adalah salah satu masa terngeri yang pernah saya alami. Dokter menyuruh saya untuk berdoa, tapi mana bisa berpikir jernih? Saya reflek langsung merapal al-Fatihah, dan kurangajarnya, di tengah proses itu dokter malah menertawakan gara-gara al-Fatihah. Memang ketika proses tidak sakit, tapi setelah efek obat biusnya habis. Ah, teriak dan nangis jadi satu. Untungnya semua kengerian itu tergantikan oleh uang-uang yang berdatangan dari tetangga dan saudara yang menjenguk. Tapi sesungguhnya, itu tetap saja ngeri.
Sampai jumpa pekan depan!