Voters – Day 279 of 365

Project 2014 Day 279 of 365

6 Oktober 2014. Melakukan pungutan suara di satu sisi menimbulkan rasa tidak sabar, sebab berkaitan dengan respon orang lain. Namun di sisi lain jelas membutuhkan effort lebih untuk membuat mereka ikut bersuara. Tapi usaha lain yang lebih keras adalah mencoba memberikan suara ketika memang seolah sengaja dibungkam.

Mengomentari tentang pemilihan pimpinan lembaga tinggi negara, saya hanya bisa merasakan sakit hati. Katanya saja lembaga tinggi, namun ternyata berlangsung layaknya debat anak TK yang sering tidak mau menunjukkan sikap peduli bahwa sebenarnya mereka masih berada di satu playground.

Ketika yang dipakai adalah sistem paket dan bukan pertimbangan proporsional berdasarkan musyawarah mufakat (bahkan hal ini tidak terjadi) maka kentara sekali ketidak adilan itu. Lalu kalau muncul upaya-upaya untuk menghalang-halangi pemrotesan, saya anggap hal itu sah-sah ada.

Toh, saya tanya untuk salah satu contoh: mana ada sih kelompok yang rela, ketika ternyata yang bisa mengajukan paket pimpinan hanya satu kelompok, kemudian setelah terpilih, tiba-tiba kelompok yang gagal mengajukan paket itu diminta untuk menerima?

Kalau misalnya jumlah yang tidak bisa mengajukan itu sedikit sih bukan masalah, tapi yang terjadi di sini adalah hampir satu lawan satu.

Saya merinding membayangkan kelanjutannya. Bukan lah periode yang singkat.

Sudah mengkritisi apa hari ini?

Tontonan hari ini Annabelle (2014). Gagal tampil secantik The Conjuring, spin-off awal yang terkesan buru-buru. Saya kira ini bakal dibuat sekuelnya, mengingat pendapatnnya cukup tinggi.