[Eksploitasi] #Beat2015 23/365

Saya kebingungan dengan pola relasi media yang coba dibangun. Seolah-olah frekuensi yang (kebetulan) berhasil mereka pinjam dari masyarakat kemudian digunakan untuk melakukan pembodohan berulang kali. Hari ini saya benar-benar merasa malu dengan “jurnalisme” di Indonesia–itu pun kalau masih pantas disebut sebagai jurnalisme.

Saya menjadi sungguh kehilangan kata-kata ketika institusi media malah menjadi kompor berapi biru, layaknya anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru. Mencoba untuk terus mengeksploitasi tanpa adanya kepedulian pada lingkungan sekitar. Toh kalau besok sudah bosan tinggal cari-cari yang lain lagi (atau bikin sendiri), yang mungkin biasa tapi bisa dijadikan hot dan kontroversial. Coba kita hitung sudah berapa banyak korban dari hal ini, satu, dua, tiga… bah lebih! Mungkin mereka lupa ya bahwa media penyiaran di Indonesia terutama TV masih menjadi alat difusi informasi terbaik di Indonesia. Dengan terma “terbaik” berarti meneguhkan posisi petahananya.

Semakin hari saya semakin kehilangan selera untuk ikut debat kusir berkait isu politik, itu lah mengapa saya lebih memilih bungkam untuk mengomentari politisasi tersebut. Lebih mendesak untuk menyadarkan tentang aspek medianya. Sekali pengaruh itu melekat, bakal menjadi sangat sulit untuk kembali menetralkannya dari hal dusta. Adu domba contohnya. Dalam kondisi semacam ini, justru langkah paling tepat adalah menggalakkan lagi aksi besar-besaran matikan TV. Layaknya sebuah laman daring, apa guna tanpa adanya viewers?

Mati dengan tinggal menghitung mundur bersama. Kalau hal itu benar terjadi, kolaps yang ada akan memberikan peluang baru untuk merebut kembali frekuensi publik yang sedang diindividualisasi tersebut–kritis. Sebagai seorang yang concern dengan media, saya semakin terbebani, tentang semakin sulitnya mewujudkan sosialisasi literasi media. Jangan langsung percaya dengan yang diungkapkan oleh media, framming kepentingannya beda-beda. Mungkin masih ada yang baik, tapi yang buruk dan sering hanya membuat kontroversi masih mendominasi.

Ada saran yang lebih baik?