4
@31harimenulis
Dengan narasinya, Goodbye to Language adalah gugatan pada segala hal.
Jean-Luc Godard dengan semena-mena membuat penonton “harus” terus
memandangi layar. Tanpa sedetik pun boleh menoleh. Narasi-narasi tumpuk
dan timpangnya adalah penyebab utama dari hal itu. Ketika satu narasi
berjalan, tiba-tiba di bagian berikutnya sudah mulai ditimpa dengan
dialog lain. Atau tiba-tiba audionya dihilangkan, dibuat saling
berbenturan, dibuat sangat janggal, ditambahi dengan pekakan
scorring-nya.
Namun menonton Goodbye to Language adalah kepuasan
tersendiri. Utamanya untuk memuaskan otak dengan pikiran pun ide yang
digugat dari cerminan dialog sepanjang durasi. Penonton diajak untuk
bersikap skeptis pada segala hal, tidak terkecuali. Melintasi era,
melintasi batasan baik itu manusia, hewan, tumbuhan, benda hidup, benda
mati. Ini adalah film filosofis.
Coba perhatikan
potongan-potongan footage-nya. Yang seolah dibuat serampangan namun
sebenarnya masing-masing “bercerita” melalui sambungan di bagian lain,
melalui tone warna yang tiba-tiba saja bisa berubah. Atau lewat potongan
aspect ratio-nya, pun melalui kualitas per footage. Saya benar-benar
masih dibuat heran karena film ini juga melakukan penayangan dalam
format 3D.
Goodbye to Language mencoba untuk memberikan penawaran
ulang untuk awal kehidupan. Menggunggat: sebenarnya yang bisa melihat
dunia dengan benar itu manusia atau makhluk lainnya (anjing contohnya)?
Pun ada dialog yang menyatakan, mungkin saja suatu hari nanti tiap
individu akan butuh interpreter (penerjemah) untuk memahami omongannya
sendiri. Lainnya, ketika salah satu karakter menyatakan “I hate
characters” disertai dengan penjelasan rasionalnya. Lalu muncul
pertanyaan tentang kebebasan, “Apakah kebebasan memang memberikan
kebebasan?” pada kenyataannya kebebasan (kemerdekaan) justru memisahkan
orang-orang karena berbenturan dengan kebebasan masing-masing. Kemudian
tebak-tebakan tentang dua penemuan apa yang paling berpengaruh di dunia.
Apakah “infinity” dan “zero” atau “sex” serta “death”?
Proses
untuk menikmati Goodbye to Language saya yakin tidak akan sama bagi
setiap orang. Ada yang akan menyukainya, membencinya, atau bahkan muak
karena merasa dibingungkan. Sama halnya ketika film ini mencoba
menggugat tentang term “equality” dengan bilang bahwa satu-satunya
kesempatan tiap makhluk bisa setara adalah ketika mereka sedang eek
alias “poop”.
7,5/10