Berbulan-bulan mencari istilah yang pas untuk “sindrom” janggal yang beberapa kali waktu saya alami, akhirnya hari ini saya menemukannya. Bukan, bukan murni saya yang menemukannya, tetapi berkat video terbaru yang diunggah oleh Jack Howard di kanal YouTube-nya.
Tidak yakin apakah ini kebetulan, akan tetapi Jack mengalami gejala-gejala yang mirip dengan yang saya alami. Lalu muncullah istilah itu: bad brain days. Terjemahan domestiknya: otak yang sedang tidak bisa diajak berkompromi. Beberapa acuan terkait hal ini adalah kalau: kamu merasa harus mengerjakan sesuatu tetapi otak rasanya capek terus-terusan, ketika kamu biasanya paham ketika baca ulang tulisanmu dan tiba-tiba kali ini susah mengerti, serta (ini yang paling sering bergerilya di pikiran saya) ada dorongan kuat supaya bisa nangis.
Perlu saya tekankan, meskipun seperti ciri-ciri depresi, bad brain days tidak masuk ke situ. Kegamangan ini hanya tentang peluapan emosi pribadi secara tidak konvensional saja. Kalau kata Jack, “Kamu tidak perlu khawatir, saya tidak perlu saran darimu, saya cuma butuh ngomong ini dan didengar saja.”
Ketika berada di kondisi ini rasanya memang capek banget, meskipun tidak berbuat apa-apa. Saya sampai berkali-kali bertanya pada diri sendiri: ada nggak sih jasa buat bikin nangis? Bukan karena sedih, tapi karena pengin aja. Agaknya ketika itu terjadi, kelegaan-kelegaan yang berujung pada paripurnanya bad brain days bisa lebih cepat hadir.