Pagi Buta | Rabu Atmosfer

tigabelas

@31harimenulis

Pagi buta pernah menjadi teman baik saya.

Saya akan terbangun pukul dua atau tiga dini hari. Kemudian menjadi produktif dengan memilih kegiatan antara baca materi/menyelesaikan tugas/menulis artikel/menonton film atau serial. Kalau sedang membuncah, bisa jadi akan melakukan kombinasi hal-hal tersebut.

Situasi itu didukung oleh mekanisme internal tubuh saya yang sudah teratur sedemikian rupa: tidur cepat, bangun gasik. Misal sedang tidak beruntung, yang terjadi adalah: tidur telat, bangun gasik. Intinya, tubuh saya bakal lebih memilih untuk mengurangi porsi tidur dibandingkan mesti bangun telat.

Itu dulu.

Meskipun kini ada kondisi yang tidak berubah, tetapi juga ada penyesuaian. Saya masih rutin bangun jam dua atau tiga pagi. Akan tetapi saya juga bisa “memilih” untuk bablas hingga bisa bangun lebih siang. Yang saya sukar lakukan adalah balik lagi ke level “rajin” layaknya di masa lalu sesaat setelah mata melek.

Kadang ada perasaan bersalah karena sekarang jadi merasa kurang mengeksploitasi waktu “prime” versi saya itu. Namun, mungkin ini juga salah satu fase yang kebetulan sedang singgah. Jika nanti datang lagi, tak segan saya akan bersuka-cita menyambutnya.