Ulang Lagi dan Lagi | Sabtu Tanam

sembilan

@31harimenulis

Belasan tahun silam, saya pernah menjadi anak yang gemar tanam-menanam. Ketika anak kelas tiga atau empat SD sedang trennya main game konsol, saya justru hobi nyari tanaman baru yang bisa dilesakkan ke tanah depan rumah.

Yang paling membekas, saya pernah punya pohon bayam yang ukurannya sangat besar–daunnya sering saya goreng jadi keripik–dan keberhasilan menanam apukat dari bijinya–hingga berbuah bertahun-tahun kemudian. Semuanya saya lakukan tanpa baca teori bercocok tanam.

Belasan tahun berselang, minat melakukan hal yang sama kembali muncul di tengah masa pandemi. Kini persiapan saya lebih matang: beli beraneka ragam benih, membeli media tanam, hingga baca/nonton sajian tentang cara pembibitan maupun perawatan tanaman. Hasilnya? Ada yang oke, ada yang bikin geleng-geleng.

Saya tidak bilang bahwa dulu hasilnya 100% mujarab, karena keduanya (lampau dan sekarang) nyatanya sama-sama dipenuhi trials and errors.

Hampir sebulanan ini saya harus belajar “mencatat” tentang efektivitas pertumbuhan sayur-mayur. Termasuk meraba-raba sebenarnya mereka butuh sinar matahari seberapa banyak. Apakah sudah khatam?

Belum.

Hari ini saya kembali melakukan percobaan dengan tanaman yang sama untuk ketiga kalinya. Kali ini dengan pemberian sinar matahari maksimum. Saya masih penasaran mana yang nantinya paling bisa bikin senang hasilnya.

Demi itu, mengulang prosesnya lagi dan lagi bakal dengan rela hati saya jabanin.