lima
@31harimenulis
Tiba-tiba saja timeline twitter saya sore ini ramai mengomentari cuitan dari Gina S. Noer, penulis skenario film jempolan dan sutradara anyar yang tahun lalu memborong banyak pujian lewat Keluarga Cemara dan Dua Garis Biru. Begini bunyi tweet-nya:
“Bahas kasus prank si youtuber dengan anak-anak.
Gue bacain judul videonya.
Biru, 11 thn: dia pakai kata banci?!? Bukan transgender?? He’s not polite!!
Gue: kayaknya kalau dia paham istilah yg bener gak mungkin dia ngeprank sih, Kak.
Iya sih…”
Tanpa babibu, saya pun ikut berkomentar. Mengapa? Sebab saya bisa relate sama keluarganya Mbak Gina ini. Ada benang merah yang bisa ditarik. Bagi saya, ini ga ada kaitannya sama bias kelas (seperti yang orang-orang lain arahkan ke Mbak Gina). Ya murni faktor parenting.
Ada kata-kata/istilah-istilah tertentu yang diinternalisasikan sebagai “tidak patut/tak elok” di keluarga saya sejak kecil–mayoritas pisuhan.
Hal ini pun pernah saya singgung sebelumnya. Pada September 2019 saya mencuitkan:
“Misuh dalam bahasa sehari-hari bagiku malah kayak dosa besar. Aku ga tau kok bisa gini, tapi kayaknya karena kultur keluargaku yang ga pernah misuh.
Paling mentok, biasanya aku cari alternatif lain misal: telo, lambe, cocot, dan kata² cemen lainnya (bukan top tier pisuhan).”
Saking ga pernah misuh lokal (pokoknya yang biasanya anak-anak kelas 4 SD di Jogja udah khatam meresap ke sanubari dan fasih menyelipkannya di banyak percakapan harian) dulu sewaktu kelas 5 SD salah satu senior sampai nantang saya di kerumunan, “Nek kowe lanang cobo ngomong (nyebut salah satu pisuhan).”–(Kalau kamu cowok coba ngomong (menyebut salah satu pisuhan kondang)
Apakah saya iyakan? Tentu saja tidak. Saya diam saja dan dia langsung pergi.
Lagipula, sampai hari ini, saya belum pernah sekali pun mendengar orang tua saya misuh di rumah pakai kata-kata yang sudah disepakati sebagai “tidak elok” diucapkan.
Kalaupun marah-marah, kami lebih milih meninggikan suara ketika eyel-eyelan; atau kalau benar-benar bikin dongkol, ya sudah diam.
Dan di sini saya tidak berbicara tentang benar/salah lho, ya. Balik lagi ke kata kunci awal: terinternalisasi. Artinya itu yang saya terapkan pada diri pribadi. Bahkan sampai di umur segini–tidak cuma tentang pisuhan yang umum dipakai di Jogja/Indonesia–pokoknya yang punya kedekatan sosial–tapi juga kata-kata lain yang mungkin sensitif berdasarkan standar filter pribadi.
Sok suci, dong? Tidak juga.
Om (yang tinggalnya sebelahan rumah) dan banyak teman-teman saya malah kebalikan, mereka enteng banget casciscus sambil misuh dan/atau ngeluarin jokes insensitif. Tapi apakah saya terus protes dan sok ngajari mereka? Ya enggak. Orang itu sudah pilihan mereka.