tigapuluhsatu
@31harimenulis
Seumpama tongkat bikinan Ollivander yang punya inti khusus, blog ini pun demikian untuk sebulan belakangan. Meskipun tiap hari sengaja saya buat tematik, sebenarnya semuanya bermuara pada retrospeksi yang saya istimewakan di hari Jumat, yang kebetulan juga jadi hari pertama helatan ini dimulai.
Niat saya di awal memang ingin menumpahkan kegamangan yang terjadi empat tahun belakangan. Sebuah perjalanan sulit yang tidak terprediksi sebelumnya. Namun, saya paham betul bahwa sepengin apa pun hasrat bercerita, akan ada banyak detail yang sengaja saya lepas ataupun dihaluskan. Lagi pula, tidak bijak rasanya kalau itu saja yang saya umbar. Itulah kenapa saya tetap memilih untuk mencabangkannya ke pola tematik harian.
Dari situ saya belajar untuk kembali melakukan kilas balik pada diri saya sendiri. Meski disebut “gamang”, tidak ada penyesalan di situ–konsekuen dengan yang pernah saya ujarkan di awal periode. Saya tahu bahwa acuan semesta ke saya tidak pernah jahat, cuma belum waktunya saja.
Dari situ juga saya kembali merasakan sensasi menulis lepas yang selama ini telah cukup lama saya tinggalkan–karena efek burnout. Melihat diri ini dipaksa situasi–wajib menulis harian–bikin saya sendiri sering mesam-mesem. Akhirnya ada lagi kekuatan tak kasat mata yang mendorong terus-terusan.
Dari situ saya pun tahu bahwa mungkin saja ini bakal jadi titik balik saya untuk kembali melakukan hal-hal yang dulunya selalu berhasil bikin saya bahagia tak bersyarat. Sebab, kehilangan motivasi macam itu sungguhlah tak pernah mengenakkan. Apalagi dengan umur pikiran saya yang kini sudah sekian tahun lebih tua dari sebelumnya.
Meski ini finale, tapi ini adalah season finale–bukan series finale. I’m back!