duapuluhempat
@31harimenulis
Sepekan lagi event nulis blog ini sampai di penghujung. Dan kalau diingat-ingat, dari 24 hari yang sudah jalan, ternyata saya ngetik pakai keyboard fisik cuma di hari pertama. Selebihnya selalu pakai hp sebab timing-nya selalu pas saya sudah kriyip-kriyip. Bagian ini cuma selingan.
Yang mau saya tulis hari ini adalah tentang lebaran. Kebetulan sensasinya beda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini anyep.
Tak mengherankan sebenarnya, masa pandemi belum berakhir. Sebulan penuh tak ada buka bersama orang luar. Pun saya tidak kelayapan buat ngabuburit. Dan puncaknya hari ini tak ada sholat di lapangan lengkap dengan sepinya kunjungan orang-orang.
Saya pribadi tidak masalah karena memang semakin ke sini kegiatan kultural ini semakin terasa kayak repetisi. Saya lebih terenyuh sama orang-orang sepuh yang kebetulan tinggal dekat dengan saya.
Simbah saya selalu menantikan momen ini. Merayakan hari di mana banyak sanak saudara ujung ke rumah. Anak cucu cicitnya bikin suasana ramai. Bahkan dia selalu tidak kira-kira tiap masak makanan berat buat disuguhkan–yang masaknya sampai dibela-belain bergadang.
Dua simbah saya (dari ibu dan bapak) kebetulan tinggal sangat dekat dengan saya (ibu dari bapak tinggal serumah sejak enam tahun silam, ibu dari ibu tinggal di rumah sebelah); otomatis saya lihat sendiri betapa kontras situasinya. Saya tidak tega bahkan untuk sekadar membayangkan perasaan mereka terkait perayaan tahun ini. Semoga situasi segera kondusif.