
Kelas Etika Komunikasi pekan lalu menyebut bahwa ruang
publik adalah sebuah komunitas bahasa. Ada banyak pesan yang saling
dipertukarkan untuk akhirnya coba dipahami secara bersama. Namun, karena
ruang publik berkaitan langsung dengan pesan, munculnya permasalahan
dalam pemaknaan menjadi hal yang wajar. Alan McKee (2005) telah
mengelompokkan jenis permasalahan yang bisa terjadi terkait public
sphere ke dalam lima poin: trivialization, commercialization, spectacle,
fragmentation, serta apathy.
Mengambil salah satu permasalahan riil ruang publik sebagai contoh akan
memudahkan dalam memahami poinnya. Misal, munculnya permasalahan yang
lagi-lagi harus dihadapi oleh Indosat dengan Bekasi di ruang
publik–sebelumnya iklan Indosat sempat ikut dipermasalahkan karena
dianggap menghina Bekasi (baca artikelnya di http://www.jpnn.com/read/2015/01/10/280468/Bekasi-Dilecehkan-Lewat-Iklan,-Wali-Kota-Ikut-Geram-). Pasalnya, niat
Indosat memasang penanda jalan ternyata menemui jalan terjal. Kali ini
bukan karena dianggap menjelek-jelekkan Bekasi, namun karena plang yang
dipasang dianggap tidak akurat, tidak mengedukasi, dan cenderung
membingungkan (baca artikelnya di http://www.merdeka.com/peristiwa/rambu-rambu-bikin-bingung-indosat-dituding-tak-edukasi-warga-bekasi.html).
Permasalahan yang menimpa Indosat ini juga bisa dianggap masuk ke ranah
commercialization ruang publik. Indosat terkesan lebih mementingkan
eksploitasi ruang publik untuk menyebarluaskan iklan layanannya. Hal ini
dibuktikan dengan pemasangan logo IM3 yang merupakan salah satu
layanannya sekaligus tulisan promo paket internet dengan warna plang
kontras pun mencolok. Hal itu bertolak belakang dengan penulisan plang
penunjuk arah yang dipermasalahkan banyak kalangan, misalnya Kantor
Polresta justru ditulis Kapolresta (bisa menimbulkan salah tafsir) serta
nama Stasiun Bekasi yang diubah menjadi Stasiun Bulan-Bulan.
Permasalahan papan penunjuk arah ini memperlihatkan bahwa ruang publik
memang menjadi sangat riskan untuk menjadi ajang komersialisasi.
Uniknya, berbagai bentuk usaha pemanfaatan, baik itu yang positif maupun
negatif, tetap akan berhadapan atau bahkan berbenturan dengan
masyarakat umum. Sebab, sudah menjadi bawaan bahwa ruang publik
berkaitan dengan kehidupan bersama dalam memaknai pesan yang ada.
Sehingga sebagus maupun seburuk apa pun hal-hal yang
berkaitan dengan ruang publik, etika komunikasi tetap menjadi aspek
penting untuk diperhatikan. Sebab, hal tersebut bertalian dengan hal
krusial bernama kualitas.