xviii
#pakpolisiblog @padakacarma @kolomkaca
Proses paling merepotkan dalam membuat vlog sebenarnya terjadi ketika pra dan sewaktu filming. Persiapannya lah yang membuatnya berbeda. Vlogger harus mempersiapkan betul bahwa semuanya sudah siap. Terutama tentang kondisi kamera.
Banyak yang kemudian bertanya: kamera apa yang digunakan? Pada dasarnya kamera apa pun bisa dipakai, asalkan bisa merekam gambar bergerak. Mau itu kamera profesional, pocket, webcam, hp, bahkan kamera pengintai juga bisa.
Kalau gambar sudah, maka elemen berikutnya adalah audio. Bagi kamera yang sudah cukup bagus perekaman audionya, maka tidak perlu mempersiapkan apa pun lagi. Kalau mau lebih ngoyo, bisa memakai mic eksternal. Atau kalau audio cukup buruk, bisa direkam secara terpisah baik menggunakan audio recorder maupun hp. Nantinya audio dan video digabung ketika melakukan editing.
Pertanyaan lain yang muncul adalah apakah perlu script? Saya akan menjawabnya dengan “relatif”. Dilihat dulu apakah vlog itu memang butuh script rigid atau tidak. Mungkin vlog itu berbentuk poem vlog–jelas narasinya harus disusun dulu. Kalau ternyata script rinci sulit diwujudkan, maka cukup bisa menggunakan poin-poin sebagai guidelines–habis ini ngomong apa dan seterusnya. Namun apabila masih dirasa merepotkan, impromptu juga sah-sah saja. Saya sering melakukan yang terakhir ini. Apa yang terbayang di pikiran, langsung diungkapkan. Masalah nanti ngomongnya belepotan, bisa diulang saat itu juga dan dipotong-potong waktu editing.
Sudah sadar? Betapa merepotkannya fase filming. Belum lagi apabila sudah selesai melakukannya dan melihat hasil yang kurang memuaskan: video patah-patah, audio kekecilan, atau bahkan audio tidak terekam–gara-gara lupa belum menyalakan mic. Hal-hal itu bisa diatasi dengan filmning ulang, sayangnya rasa malas dan kesal biasanya sudah mendominasi.
See? Filming itu tempat yang paling tepat untuk melihat lautan bloopers. Hahaha.